Inspirasi Opini

Menjadi Pintar dengan Gaya Belajar

2015-05-01 19.37.24Oleh : Cut Meutia Karolina

Banyak orang sering mengeluh dan merasa bodoh terhadap sesuatu. Motivasi besar bahkan berujung pada rasa menyerah dan jera dalam menghadapi suatu pembelajaran.  Apa yang salah sebenarnya? Apakah saya yang sudah memperhatikan dengan sungguh-sungguh suatu materi tetapi tetap tidak mampu mengerti adalah orang bodoh? Bagaimana mengatasi masalah ini? Tenang! Semua orang pasti bisa menyerap materi dengan caranya sendiri. Ya, salah satunya dengan mengenali gaya belajar.

Setiap pembelajaran memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda menurut perspektif masing-masing peserta didik. Salah satu faktor pembedanya adalah gaya belajar. Manusia memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, bergantung pada alat indra yang paling menonjol yang ia miliki. Misalnya, seseorang yang sangat peka dalam mendengar banyak hal, atau sangat hafal dengan apa yang ia lihat. Hal ini dapat dikenali melalui penjelasan gaya belajar. Gaya belajar seperti apakah Anda?

Pada dasarnya, gaya belajar dibagi menjadi lima gaya, yaitu auditori, visual, kinestetik, olfaktori dan gustatori. Kelima gaya belajar ini berkaitan dengan kelima alat indra yang dimiliki oleh manusia. Yaitu pendengaran, penglihatan, gerakan, penciuman dan pengecapan. Hanya saja, penciuman dan pendengaran merupakan gaya belajar yang sangat jarang ditemukan di masyarakat.  Orang yang baik dalam penciuman atau pengecapan biasanya juga memiliki kemampuan gaya belajar lainnya.  Dengan memahami gaya belajar yang unggul pada diri kita, juga dapat bermanfaat untuk menyesuaikan kecocokan profesi dari keunggulan perekaman pengetahuan oleh indra kita.  Mari sama-sama kita bahas satu persatu ketiga gaya belajar tersebut.

a. Audiotori

Berkaitan dengan keunggulan kelima indra manusia, seseorang yang memiliki gaya belajar audiotori adalah orang yang sangat peka terhadap suara, dengan kata lain pendengarannya cukup tajam.  Orang yang memiliki gaya belajar ini akan sangat mudah mengingat sesuatu yang ia dengar dibandingkan dengan apa yang ia lihat.  Dalam proses awal belajar, seorang audiotori akan merasa kesulitan untuk menulis ataupun membaca.  Hal ini sering kali terjadi pada pelajar tingkat sekolah dasar.   Jika anda seorang pendidik, pendekatan yang dapat dilakukan seorang pengajar adalah melalui suara.  Pemberian materi bisa melalui pemaparan secara langsung, membacakan materi, berdiskusi, mengenalkan melalui nyanyian, dan berbagai metode lainnya yang melibatkan pelajar untuk menggunakan pendengarannya.

Jika Anda merasa Anda adalah seorang audiotori, anda bisa memfokuskan karir anda kepada profesi yang mengandalkan public speaking, seperti menjadi trainer, stand up comedian, presenter, dan pekerjaan lainnya yang berkaitan dengan kemampuan berbicara yang hebat.

Hanya saja, seorang audiotori akan sangat terganggu dengan keributan, merasa kesulitan untuk mengapresiasikan sesuatu melalui tulisan, dan lemah dalam membaca cepat.  Dengan mengetahui kelemahan ini, seorang audiotori mampu mencari alternatif belajar yang mengajarkannya melalui pendengaran.

b. Visual

“Apa yang saya lihat, itu yang saya ingat” mungkin Anda sempat terpikir tentang hal ini terjadi pada diri Anda. Ya, kemungkinan besar Anda memiliki gaya belajar visual.  Ketajaman penglihatan seorang gaya belajar visual sangat mempengaruhi pemahaman dan ingatannya.  Seorang yang visual sangat mudah memahami dengan melihat langsung objek-objek yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Biasanya, seseorang yang bergaya belajar visual akan sangat rapi dalam menulis, teliti dalam melakukan pekerjaan, dan keributan bukanlah masalah yang akan mengganggu konsentrasi belajarnya.

Beberapa hal yang menyenangkan dalam proses belajar baginya adalah ketika melihat gambar-gambar, video ilustrasi, ekspresi pendidik dan tulisan-tulisan dalam buku.

Jika Anda merasa Anda adalah seorang yang visual, anda bisa memfokuskan karir anda kepada profesi yang mengandalkan ketelitian dan pemikir tanpa harus tampil di depan umum, seperti menjadi ilmuwan, teknokrat, atau penulis.  Hindari pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk banyak menyampaikan kembali secara lisan apa yang Anda dengar atau Anda baca. Anda bukanlah orang yang siap dengan hal itu.

c. Kinestetik

Gaya belajar yang ketiga adalah kinestetik. Gaya belajar Kinestetik adalah gaya belajar yang cukup komplit.  Seseorang bisa memahami sesuatu ketika dia bergerak, menyentuh dan bekerja terhadap sesuatu.

Seorang yang kinestetik akan lebih mudah menyerap materi pembelajaran ketika orang tersebut mengalami secara langsung apa yang ia pelajari.  Mereka lebih senang dengan kegiatan-kegiatan di luar ruangan yang memberi kebebasan dalam ruang gerak.  Kinestetik akan merasa sangat tidak nyaman ketika harus mendengarkan berjam-jam materi dalam ruangan kelas.

Jika Anda merasa Anda adalah seorang yang kinestetik, anda bisa memfokuskan karir anda kepada profesi praktisi.  Seperti pekerja laboraturium, artis atau pemain peran, olahragawan, chef atau pekerjaan lainnya yang menuntut Anda terjun dan mengalami sesuatu secara langsung.

Setiap orang bisa pintar dan sukses dengan caranya sendiri.  Bergantung pada sebesar apa usahanya untuk menjadi yang terbaik dan seberapa kenal dirinya pada dirinya sendiri.  Jadi, gaya belajar yang mana yang anda punya ?

==

Cut Meutia Karolina, mahasiswa asal Aceh yang sedang menjalani pendidikan sarjana di Universitas Padjadjaran Bandung. Cut merupakan mahasiswi jurusan manajemen komunikasi, dengan konsentrasi communication training consulting. Sekarang, Cut sudah menempuh pendidikan sarjana di semester enam.

Dengan sangat senang hati, Cut terbuka dengan diskusi mengenai tulisannya atau membahas isu komunikasi yang berkembang di masyarakat.

Kontak :

Facebook : Cut Meutia Karolina

Email : cutmeutia.karolina@gmail.com

 

About the author

theleader

Add Comment

Click here to post a comment