Profil

Peran Generasi Muda Aceh dalam Membangun Peradaban di Masa Depan

Farah Febriani

Peran Generasi Muda Aceh dalam Membangun Peradaban di Masa Depan

Oleh Farah Febriani

Mendengar kata-kata generasi muda, apa yang terbesit dalam benak kita? Pemuda adalah mereka yang memiliki kekuatan optimal dalam menjalankan segala macam aktivitas dunia maupun akhirat, aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi, memiliki pemikiran yang luas serta mampu memberikan solusi dan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menggolongkan pemuda bagi mereka yang sudah berusia sekitar 15-24 tahun.Usia ini akan berbeda-beda disetiap budaya dan daerah tempat pemuda ini berasal. Sedangkan, didalam islam sendiri, pemuda adalah mereka yang sudah diberikan beban untuk menjalankan perintah-perintah Allah (mukallaf) dan sudah cukup berakal untuk membuat suatu keputusan antara yang baik dan yang buruk.

Jika kita kembali sejenak, belajar dari sejarah yang pernah ada, niscaya akan kita temukan banyak tokoh dari golongan pemuda yang telah berkontribusi dalam membangun kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah Sukarni (berjuang melawan penjajah) dan Sayuti Melik (mengetik naskah proklamasi).

Selain itu, jika kita kembali sejenak, belajar dari sejarah islam yang pernah ada, niscaya kita juga akan menemukan para pemuda yang gigih, cerdas dan memiliki kontribusi besar dalam tersebarnya agama islam di dunia. Mereka adalah Muhammad Al-Fatih (Sang Penakluk Konstantinopel), Ali bin Abi Thalib (Gudangnya ilmu dan pemuda pertama yang masuk islam), Usamah bin Zaid (Pemimpin pasukan perang), Sa’d bin Abi Waqqash (ahli syuro), Al-Arqam bin Abil Arqam (Rumahnya sebagai markaz dakwah pertama nabi), Zubair bin Awwam (Penghunus pedang pertama di jalan Allah) dan masih banyak lagi nama-nama pemuda islam lainnya yang telah mempertaruhkan jiwa, harga dan harta untuk kepentingan jama’ah.

Jika kita mempelajari terlebih dahulu akan karakteristik para pemuda, niscaya kita akan menemukan sosok-sosok yang peduli, pemberani dan tentunya memiliki eksistensi yang tinggi. Mereka sanggup untuk mengemban amanah, berfikir kritis dan menciptakan suatu aspirasi serta kreatifitas yang tinggi bagi negeri.Lalu bagaimana dengan para pemuda Aceh jika kita perhatikan dari kacamata budaya?

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tentunya akan mengakibatkan pergeseran baik dari segi budaya, maupun dari segi akhlak para pemuda Aceh sendiri. Jika saat ini kita melihat banyaknya warung kopi yang bertebaran di mana-mana, maka kita sebagai pemuda dapat berkontribusi dengan menggunakan warung kopi tersebut sebagai wadah untuk berdiskusi, mencari solusi atas setiap kejadian serta masalah yang silih berganti pada bumi serambi tercinta ini.Bukan justru sebaliknya, menggunakan warung kopi untuk menghabiskan waktu berjam-jam sambil menggunakan internet dengan sia-sia semata.Mari kita jadikan “Warung Kopi, Sumber Inspirasi”. Hal ini tentunya akan dapat membawa dampak yang cukup besar bagi perubahan tatanan peradaban aceh ke depannya.

Sebagai seorang pemuda, tentunya kita juga dapat menyampaikan ide-ide gagasan baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan untuk terciptanya kemajuan Aceh dimasa depan. Tentunya dalam hal ini, kita sebagai pemuda juga dapat memanfaatkan media sosial, media massa, media elektronik atau media cetak untuk menyebarkan opini-opini positif dan solutif sebagai wadah untuk dapat mempromosikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Nanngroe Aceh Darussalam. Misalnya, pemuda dapat mempromosikan lokasi, makanan khas Aceh, oleh-oleh khas Aceh atau kultur budaya syariat islamnya sebagai destinasi wisata halal dunia. Hal ini dilakukan untuk dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Aceh sendiri serta untuk menebarkan nilai-nilai positif dan menjadikan Aceh sebagai kota yang dapat memberikan pengaruh psoitif bagi kota-kota lain di Indonesia ataupun dunia.Tidak lupa untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai khas pemuda Aceh yang senantiasa menjaga kehormatan diri, rajin mengaji, anti pergaulan bebas dan narkotika, tawuran ataupun pembunuhan.

Selanjutnya dari segi sosial, pemuda juga dapat membentuk komunitas atau forum-forum diskusi sebagai wadah pergerakan pemuda Aceh dalam menanggulangi segala macam isu serta fenomena yang terjadi di Aceh.Hal ini dikarenakan oleh karakteristik pemuda yang masih memiliki kepekaan yang tinggi.Contohnya seperti The Leader (Organisasi yang bergerak dalam meningkatkan kapasitas pemuda Aceh), komunitas PADUKA (Komunitas yang peduli pada kekerasan anak di Aceh), komunitas Rumput Liar (komunitas yang peduli dengan pendidikan anak-anak yang kurang mampu), komunitas Griya Schizofren (komunitas yang peduli pada pasien Schizofrenia) dan sebagainya. Nantinya, dari komunitas-komunitas inilah akan terbentuk program-program kerja yang akan membantu para pemerintah dalam menyelesaikan masalah atau mengembangkan potensi masyarakat Aceh itu sendiri.

Di dalam dunia politik pun, pemuda juga dapat memberikan kontribusinya sebagai pengontrol sosial dan pemerintahan. Hai ini juga pernah dicontohkan oleh para pemuda dan mahasiswa yang hidup di masa reformasi.Mereka memiliki aspirasi, opini dan aksi atas kebijakan dan peraturan atau sikap-sikap pemerintahan yang dapat merugikan bangsa (korupsi, kolusi dan nepotisme).Pemuda yang cukup ilmu dan akhlak yang baik juga dapat dilibatkan dalam sistem pemerintahan (anggota DPR, walikota dsb) agar kinerja-kinerja pemuda yang masih memiliki semangat yang tinggi ini mampu membawa perubahan bagi bangsa serta dapat menciptakan peradaban baru yang lebih baik lagi untuk Aceh kedepannya.

Selanjutnya, peran pemuda dalam dunia pendidikan adalah memajukan mutu pendidikan dengan menghasilkan karya dan metode pendidikan baru yang lebih menarik sehingga lebih mudah diserap oleh para peserta didik di zaman yang serba modern ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kecanggihan teknologi menuntut para guru untuk melek akan teknologi. Oleh karenanya, pemuda atau guru junior dapat bekerjasama dengan guru yang lebih senior agar dapat meningkatkan mutu pendidikan Aceh yang nyatanya saat ini masih sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia.

Selanjutnya, memasuki tahap bidang pertanian, kontribusi pemuda juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan ketahanan pangan lokal. Disini pemuda dapat berkontribusi membantu pemerintah dalam mensosialisasikan agar seluruh komponen masyarakat tetap mencintai produk pangan lokal atau dapat memberikan pemahaman kepada para petani agar terus mengembangkan produksi pangan yang baik dengan cara menggunakanteknologi yang canggih namun ramah lingkungan. Hal ini penting untuk ditingkatkan karena Aceh adalah salah satu sektor pertanian yang banyak menghasilkan pangan yang beragam mulai dari sayuran, kopi, beras dan sebagainya.

Selanjutnya yang juga tidak kalah penting, pemuda diharapkan mampu berperan aktif dalam penelitian-penelitian yang berkaitan tentang kesehatan, pendidikan atau membangun ide-ide dalam bentuk wirausaha.Meski yang baru dapat dilakukan dalam taraf kecil, namun jika semua pemuda Aceh dapat mandiri, insya Allah tingkat pengangguran setiap tahunnya tidak semakin meninggi.

Tetapi, dibalik semua peran pemuda tersebut tidak akan terlaksana dengan baik jika akhlak, nilai-nilai serta ilmu yang dimiliki oleh seorang pemuda tersebut tidak memadai. Sangat disayangkan, jika kita melihat banyak pemuda berprestasi namun moral dan akhlak tidak dijunjung tinggi.Sangat disayangkan, jika kita melihat pemuda yang aktif namun terlalu anarkis, tidak mampu mengendalikan emosi, tidak taat hukum dan tidak mampu berfikir kritis serta solutif dari setiap masalah yang dihadapi.Kuatkan pondasi ketika kita ingin berbuat yang lebih untuk lingkungan, niscaya segala rintangan dan ancaman dimasa depan mampu dihadapi dengan bijak.

Selanjutnya, sebagai seorang pemuda tentunya kita tidak boleh putus asa dengan kegagalan-kegagalan yang kita hadapi.Seperti kata Bung Karno “Berikan aku sepuluh pemuda maka aku sanggup mengubah dunia. Nah, teruslah berusaha dan belajar dari sejarah para pemuda hebat di zamannya baik dari Aceh, Indonesia atau negara-negara islam pada zamannya.. Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara seperti sabdanya Rasulullah SAW “Gunakanlah kesempatan lima sebeum lima. Masa mudamu sebelum masa tuamu.Masa sehatmu sebelum masa sakitmu.Masa kayamu sebelum masa miskinmu.Hidupmu sebelum matimu.Masa senggangmu sebelum masa sibukmu (HR Al Hakim dan Baihaqi).Niscaya, kita akan mampu menjadi pemuda yang dapat membangun peradaban Aceh yang lebih baik dan syar’i di masa depanInsya Allah.

About the author

theleader

9 Comments

Click here to post a comment