Opini

Budaya Yang Hampir Punah

Budaya Yang Hampir Punah

Oleh: Muliadi

ACEHGEMILANG.COM – Pada dasarnya budaya adalah suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat hingga menjadi hukum kearifan lokal di setiap daerah tertentu hingga turun menurun kepada generasi selanjutnya sampai anak cucu di setiap daerah tertentu.

Nah penting nya bagi generasi muda-mudi untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan aceh yang budaya nya dulu terkenal hingga kepenjuru dunia. contohnya tarian saman. dan masih banyak seni budaya lainya yang begitu megah bahkan pemuda pemudi aceh sekarang hampir tidak tau bahwa seni dan budaya aceh dulu begitu anggun dan sopan.

contohnya sapaan disaat berpaspasan di jalan dengan kata “Assalamualaikum” ini telah pudar dan hampir punah bahkan, bisa kita lihat realita di kota kota samisal kota banda aceh, kota langsa, kota loksumawe, dan kota kota lain nya di seantero aceh, dimana pemuda pemudi jarang sekali menyebut kata kata “Assalamualikum” saat mereka bertemu, atau saat berpaspasan di jalan ataupun di warong warong kopi. inilah fanomena dan realita yang terjadi di intansi pemerintahan dan di intansi pendidikan baik di kampus atau di sekolah.

Disaat hampir semua proses kehidupan pemuda-pemudi di kendalikan oleh internet segala sesuatu nya tinggal klik, artinya dizaman modernisasi ini semuanya jadi serba mudah, mau berdiskusi tinggal klik, mau belanja tinggal klik, mau apa saja tinggal klik di internet, karna ini zaman dimana nafas jadi ambisi dengan alasan kebebasan berpendapat yang telah di atur dalam undang undang, dan kebebasan berdemokrasi.

Apabila hal ini tidak ada perhatian khusus oleh pemerintah, dan lembaga lembaga pendidikan Aceh dengan cara bersosialisasi di kampus-kampus dan sekolah sekolah tentang pentingnya melestarikan budaya sendiri dimana dengan budaya sendirilah bangsa kita ini dikenal oleh bangsa lain.

Perlu di ketahui oleh pembaca dengan kebudayaan leluhur zaman dahululah kita bangsa ini di kagumi ataupun “dibohyeum” jadi sangat penting kesadaran dari diri kita sendiri untuk mengembangkan seni dan budaya daerah yang kita cintai ini. setelah kesadaran sudah tertanam di dalam benak hati kita sendiri baru kita menyadarkan orang sekeliling kita dan kepada generasi muda berikutnya.

Pada dasarnya inilah yang harus kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa karna kalau Bukan dari kita kalangan mahasiswa, dan pemuda siapa lagi, ir. sukarno dulu pernah mengatakan “kalau pemuda sudah berumur 21,22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda yang begini harusnya gundul kan saja kepalanya,” jadi seharus nya kita malu pada diri kita sendiri dan para pendahulu kita yang telah susah payah berjuang memardekakan negeri ini, kita generasi muda harus nya intropeksi diri apa yang telah kita berikan untuk kemajuan bangsa ini, daerah kita, dan kampung kita sendiri.

Sekarang bisa kita lihat dimana mana pemuda-pemudi asyik dengan HP android di tangannya masing-masing tanpa mempedulikan kesenjangan sosial yang sedang terjadi di sekelilingnya karna hilangnya idiologi dasar ke acehan yaitu kebudayaan, kenapa saya katakan kebudaya, kita bisa lihat negri jiran malaysia mereka sebuah negara bisa dikatakan beridologi komunis, tapi mereka menanam idiologi dasar yang di tanam pada generasi muda-mudinya sangat kental dengan kebudayaan mereka, sehingga mereka tidak gagab apalagi takut disaat masuknya budaya baru baik itu dari negara negara barat ataupun negara neggara timur.

Nah berbicara kita aceh, generasi muda mudi kita sekarang ini sungguh sangatlah minder dengan budaya kita sendiri karna kita  masih beranggapan atau mengartikan kebudayaan dengan arti budaya lokal, Karna masih menganggap budaya lokal, berarti masih jauh tertinggal dengan budaya budaya di daerah maju, padahal tidak ada yang nama nya budaya lokal, menurut saya semua budaya sama derajat nya, baik itu budaya aceh, budaya bugis, budaya sunda, pada dasarnya sama dengan budaya budaya lain lainnya yang ada di dunia ini. sehingga efek negatifnya bagi generasi genarasi kita ini adalah hampir semua pemuda-pemudi tidak bangga lagi degan kue thimpan atau kuah pliek,yg merupakan sesuatu yang harus nya di banggakan  karna tidak di miliki di daerah lain, bahkan dunia lain sekalipun.

Inilah Pekerjaan Rumah yang harus kita benah dan lakukan dengan tersuktur, masif dengan cara berlahan lahan namun pasti, artinya banyak budaya aceh yang hampir hilang dan punah yang harus segera di lestarikan kembali, contohnya “kanduri blang” syukuran yang dilakukan di balai tegah sawah biasanya, sambil berdo’a untuk keberkahan sebelum memanenkan padi setelah itu baru makan nasi kari kambing atau lainnya, ada hal yang kurang lengkap, seharusnya di saat proses “kanduri blang” itu di lakukan misalnya di daerah pidie jaya.

Di saat prosesi “kanduri blang” itu di lakukan seharusnya ada agenda khusus yaitu musyawarah untuk turun sawah setelah panen sawah beberapa hari setelah prosesi “kanduri blang”. sehingga jadwal kapan turun sawah di putuskan di saat “kanduri blang” itu dilakukan. efek atau ke untungan nya adalah bisa langsung turun sawah setelah panen tanpa harus bermusyawarah kembali di mesjid, musalla, atau balai rapat gampong beberapa hari, atau beberapa bulan setelah panen padi tersebut.

Budaya “kanduri blang” itu salah satu budaya yang harus di lestarikan di aceh dan masih banyak budaya budaya aceh lain nya yang harus di lestarikan  seperti “kanduri tet apap”, “rapai geleng”, “seudati”, “tarian ranup lampuan”,sureune kale”, “khanduri laot”, “balah panton” di saat pesta pernikahan dan masih banyak adat dan kebudayaan aceh lainnya. sultan iskandar muda pernah mengatakan “mate aneuk meupat jirat mate adat hana pat tamita” Semoga saja aceh akan bertambah maju,aman dan damai dengan kelebihan adat dan budaya nya yang begitu banyak,dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt.amin.

Penulis;

Muliadi
Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh
Ketua umum komisariat FKIP Unigha, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang sigli,.