Uncategorized

Kuliah Online I The Secret of Ramadhan: Ramadhan leadership and character building

Kuliah Online 1
Sekolah Pemimpin Muda Aceh

The Secret of Ramadhan:
Ramadhan Leadership and Character Building
Oleh: Sekolah Pemimpin Muda Aceh

Ramadhan sebagai Perubahan Diri Membangun Character Building dan Leadership. Itulah hal penting dalam tulisan ini. Mengapa? Karena dalam hidup kita dilahirkan sebagai pemimpin. Ingat di dunia kita berada dalam kerugian dan kesusahan. Apa saja kesusahan dunia itu? Ada banyak ragamnya misal, Kegagalan, Kesedihan, Kemiskinan, hutang dan masalah financial lainnya, Penyakit, Hubungan sosial, Kehilangan, Dan lain sebagainya

Dalam hadits dikatakan bahwa “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu.” (HR Bukhari dan Muslim). Ramadhan adalah momentum untuk menginternalisasi makna kepimpinan, sebagaimana perintah puasa dalam Al Baqarah 183. Setiap kita yang beriman, mendapat perintah melaksanakan puasa Ramadhan sebagaimana Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS 2:183).

Imam Abdurrahman al-Shafury dalam kitab ‘Nuzhah al-Majalis wa Muntakhab al-Nafais’ menjelaskan, kata Ramadhan terdiri dari 5 kata, yakni: ra (ridwanullah) berarti keridhaan Allah, mim (maghfirah) berarti ampunan-Nya, dhad (dhimanullah) berarti jaminan keamanan dari Allah SWT, alif (ulfah)berarti kelembutan, dan nun (nawalullah) berarti pemberian dari Allah SWT.

Tujuan inti puasa adalah menggapai ketakwaan. Puasa menjadi sarana mensucikan hati dan jiwa agar taat kepada perintah-Nya, sekaligus mengobati dan menjadi terapi kesehatan manusia. Ramadhan merupakan bulan pendidikan rohani yang melatih keuletan, kejujuran, kesabaran serta menjadi pakem menahan gejolak nafsu yang mendorong hamba melakukan dosa dan kesalahan.

Orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Dalam Al Hujurat 13 disebutkan : “Wahai manusia. Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Manusia disapa sebagai manusia, dijelaskan tentang penciptaan sebagai laki-laki dan perempuan serta bersuku-suku, adalah aspek dunia, di akhir ada Allah sebagai aspek akhirat. Kembali ke ayat Al Baqarah 183, “tattaqun”, bertakwa artinya selalu berproses, tidak pernah berhanti. Bentuk katanya dalam bahasa Arab disebut fi’il mudhori’, yang berarti saat ini dan akan datang, berkelanjutan, dan dapat diusahakan. Dengan ketakwaan, manusia tidak akan kehilangan orientasi diri. Ada filter terhadap perilaku yang menyimpang. Dan pada akhirnya menuju rahmatan lil ‘alamin.

Islam adalah tuntunan Allah SWT yang harus menjadi pedoman hidup kita di dunia. Sebuah keyakinan atau aqidah, dan juga sebuah peraturan atau syariah yang harus disebarluaskan, diperjuangkan, dibela dan ditegakkan di tempat di mana kita hidup. Menjalani tugas-tugas itu, tak hanya membutuhkan fisik yang kuat, akal yang tajam, tapi juga ruhani atau jiwa yang kuat. Di sinilah, ibadah puasa Ramadhan disyariatkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai upaya membentuk karakter Muslim yang kuat secara ruhani, sehingga mampu memikul tugas-tugas sebagai khalifatullah atau khalifah Allah SWT di muka bumi.

Pemimpin harus dapat membawa kepada keunggulan manusia sekarang maupun di masa depan, di dunia maupun di akhirat, fisik dan spiritual. Pemimpin harus mempu menghadirkan nilai takwa.

Puasa membentuk kita untuk menjadi lebih peduli dengan rakyat kecil. Penderitaan mereka dalam menahan lapar karena ketidaktersediaan pangan untuk dikonsumsi dapat kita rasakan secara langsung, tidak sekedar kita lihat dan kita dengar saja. Untuk itu, kepedulian yang empatif selayaknya terbentuk dan termaknakan dalam diri kita. Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw melanjutkan pembentukan kepedulian yang empati itu dengan dorongan-dorongan ayat Al-Qur’an dan hadist untuk berinfaq lainnya.

Puasa membentuk kita untuk lebih bersabar menahan kejelekan yang ada dalam diri kita. Hal-hal yang biasanya bebas kita lakukan menjadi sesuatu yang dilarang di bulan Ramadhan ini. Bukan tanpa sebab dan tujuan. Pembentukan kepedulian yang empatif, kesabaran yang progressif, dan kerja keras yang ikhlas, kesemuanya adalah komponen-komponen penting dari sebuah kepemimpinan.

Dalam keadaan normal tubuh kita mendapatkan energi dan nutrisi dari luar tubuh melalui makanan, minuman dan radiasi. Ketika kita puasa disiang hari, dimana tidak ada asupan makan, aktifitas dan gerak kita akan membakar energi hingga habis. Bila kita sedang berpuasa otak akan otomatis menghidupkan PROGRAM AUTOLISIS. Sebagai cacatan, Semua makhluk hidup di bumi dibekali dengan sistem (fithrah) autolisis yang khas:
– Pohon berpuasa dengan menggugurkan daun
– Rumput dan biji berpuasa dengan berhenti tumbuh (dorman)
– Beruang berpuasa selama musim dingin
– Buaya berpuasa (aestivasi) selama musim panas
– Ikan paus dan burung berpuasa ketika bermigrasi
– Ikan salmon, pinguin, berpuasa ketika musim kawin
– Kuda, kucing, berpuasa ketika terserang penyakit hingga sembuh

Setidaknya, ada empat target yang harus kita capai dalam menjalankan ibadah Ramadhan ini, dalam rangka meningkatkan leadership dan characterbuilding khususnya dalam konteks mengemban amanah perjuangan menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam yang kita yakini sebagai pedoman hidup ini. Target pertama, quwwatul ‘aqidah atau memperkuat aqidah di dalam hati. Target kedua adalah, taqwiyatus Shilah billah atau Memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Target ketiga adalah, memperkuat hubungan dengan sesama manusia, atau taqwiyatus shilah bainan naas. Target keempat, adalah quwwatuts tsabaat atau memperkokoh jiwa ketabahan

“Terjadi pengkhususan pada ibadah puasa, di mana amalan-amalan yang lain dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat, sementara puasa adalah untuk Allah sehingga tidak ada batasan dalam bentuk bilangan dalam hal berlipatgandanya ganjaran yang akan diberikan. Bahkan Allah melipatgandakan ganjaran puasa tanpa batas, karena ibadah puasa adalah bagian dari ash-Shobr (kesabaran). Dan Allah telah berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang bersabar dilipatgandakan ganjarannya tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)’”

Puasa mengandung semua jenis kesabaran yang terpuji di sisi Allah. Pertama: di dalam puasa terkandung kesabaran di atas ketaatan pada Allah dengan menunaikan ibadah puasa itu sendiri. Kedua, dengan puasa seorang hamba telah bersabar dari melakukan apa-apa yang diharamkan Allah berupa syahwat. Ketiga, orang yang berpuasa telah bersabar dari ketentuan Allah berupa rasa haus dan lapar, lemahnya jiwa dan fisik yang memayahkan. Dan kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba di jalan Allah, akan terekam sebagai catatan pahala bagi hamba tersebut sebagaiman firman Allah:
“…tidaklah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [QS. At-Taubah: 120].

Apa kaitan Ramadhan dengan perubahan diri dan pembangunan karakter kita?
Apakah perubahan yang telah kita rasakan? Adakah perubahan itu begitu jelas menjelma dalam amal-amal yang kita lakukan? atau kita hanya merasa lapar dan kehausan saja, tanpa ada perubahan? Perubahan yang kita harapkan adalah perubahan karakter kita jauh dari kekerasan, egoisme , arogansi dan inkonstitusonal.

Terdapat tiga komponen penting pada diri manusia, yakni hati, akal, dan lisan. Tiga komponen ini akan baik jika dirawat dengan baik. Sebaliknya, ketika tidak dirawat, tentu akan menimbulkan malapetaka dan bencana, baik bagi diri maupun orang lain. Karena itu, setiap manusia penting untuk menjaga ketiganya dari penyakit berbahaya.

Puasa dapat membantu penyelesaian masalah sosial dan kebangsaaan yaitu dapat menciptakan liyundziru qaumahum(membangun masyarakat) yakni membentuk kepribadian dan mengedepankan akhlakhul karimah dalam segala persoalan
Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, puasa diharapkan dapat terciptanya pertama, pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat (character building) ini sangat penting agar lahir kader orang-orang atau masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia dan terhadap bangsa dan Negara.

kedua adalah criticism buiding (membangun sikap kritis), ini sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar sendiri perlu menggunakan etika. Bahwa character building tersebut bukan tanpa metode, dan mekanisme yang sesuai dengan tatanan kehidupan masyarakat. Allah swt pun telah mengajarkan bagaimana kita seharusnya melakukan character building, sebagai berikut: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S: An-Nahl: 125)”

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya). Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S: Ali Imran: 159)

Mari kita intropeksi diri kita masing-masing apakah kita telah menemukan hikmah puasa ramadhan kali ini? Tentunya jawabnya ada pada diri kita masing-masing. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan sebagai berikut: “Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.

Sementara tugas yang amat berat bagi kita selain liyatafaqqahu fiddin, mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan desngan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas liyundziru qaumahum (membangun masyarakat) yakni membentuk cracter building.
al-Qur’an dalam an-Nisa’ 36:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

Dari uraian ayat diatas bahwa menjalin hubungan dan menciptakan jejaring social tidak kalah pentingnya dengan men-tauhid-kan Allah swt. Jika berhubungan dengan-Nya (hablum minalllah)Allah swt hanya melarang kita agar tidak menyekutukan-Nya, sedangkan berhubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas)Allah swt memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka semua.kita dituntut untuk berkarakter yang baik dengan menjauhkan segala bentuk arogansi. Menghindari kehancuran nilai-nilai social, yang membuat rusaknya sendi kehidupan. Character building dapat menuju meningkatkan iman dan taqwa dan senantiasa meningkatkan kwalitaskeimanan dan ketakwaan kita pada Allah SWT, yang tidak lain adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, karena dengan takwallah itulah manusia akan memperoleh kebahagian dan kemuliaan yang hakiki serta derajat yang lebih tinggi dan mulia.

10 Langkah Menuju Pintu Ramadhan
Berbicara tentang Ramadhân yang sebentar lagi datang. Langkah apa saja yang harus kita persiapkan.
Langkah #1

Bersihkan tekad dan niatmu karena Allâh semata. Jadikan puasa dan shalat malammu tulus hanya untuk Allâh, dan berusahalah untuk menjadikan amal-amal kebajikanmu tersembunyi dari penglihatan kecuali penglihatan Allâh saja.
Langkah #2

Jadikanlah ibadah hati mendahului ibadah badani. Karena ibadah hati adalah poros dan penentu diterimanya amal. Betapa banyak orang yang hanya duduk dengan amalan hatinya, terlihat tidak banyak melakukan amal lahiriyah, namun ia justru mendahului orang-orang yang bersusah payah dan berletih peluh dalam amalnya.\

Langkah #3
Kokohkan tekadmu dalam berlomba-berlomba menuju kebaikan dan ketaatan, karena pahala kebaikan akan dilipatgandakan saat Ramadhân, sementara momentum Ramadhân untuk kita nyaris akan berakhir seiring dengan menipisnya jatah umur kita.

Langkah #4
Hiduplah bersama Kitabullâh sekuat tenaga dalam membacanya, mentadabburinya, menghafalnya, mengulang-ulanginya, dedikasikan dirimu untuknya setiap kali engkau memiliki waktu luang.
Langkah #5

Perbanyaklah memberi di bulan kedermawanan dan pengorbanan harta ini, karena sungguh Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah insan yang sangat dermawan di bulan ini
.
Langkah #6
Berdakwah kepada Allâh adalah di antara bentuk taqarrub yang paling agung di bulan ini, maka ambillah peran untuk menyampaikan dakwah melalui kalimat yang baik, atau melalui hadiah berupa rekaman kajian, atau buku-buku kecil yang bermanfaat.

Langkah #7
Saudaraku yang kariim, jangan melupakan saudara-saudaramu yang telah mendahuluimu di dalam tanah, yang terpenjara, yang ditahan oleh musuh, yang terlantar dari keluarga dan penopang hidupnya. Ingatlah mereka dalam do’amu, karena setidaknya mereka masih punya hak mendapatkan do’a kita yang tulus.

Langkah #8
Ibumu dan Ayahmu, adalah dua pintu surga. Maka berhatilah-hatilah engkau membuat keduanya marah terhadapmu di bulan yang mulia ini. Perbanyaklah bakti pada keduanya, karena baktimu kepada mereka adalah di antara bentuk taqarrub yang paling agung kepada Allâh.

Langkah #9
Sambutlah bulan yang mulia ini dengan taubat yang tulus, dengan niat yang mutlak untuk tidak lagi kembali pada kebiasaan lama penuh dosa, tekadkan pula niatmu untuk meminta kerelaan dan maaf dari orang-orang yang telah engkau ambil haknya. Bersihkan hatimu, jangan sampai Ramadhân mendatangimu sementara hatimu masih ada rasa dengki dan hasad pada seseorang.

Langkah #10
Sambutlah keharuman Ramadhân dengan do’a. Boleh jadi satu panjatan do’a bertepatan dengan terbukanya pintu ijabah. Dengannya Allâh mencatat untukmu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai catatan akhir, Ketika seseorang menghendaki hati, lisan dan kecerdasan akalnya memiliki pancaran cahaya yang menyelamatkan, tentunya Al Quran adalah pedoman dan pusaka yang paling ampuh. Sedangkan untuk merawat kesucian hati, lisan, dan kecerdasan akal, puasa adalah kunci utamanya.

Marhaban ya Ramadhan. Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat!

About the author

theleader

Add Comment

Click here to post a comment