Foto GALERI Global

BUDAYA DISKUSI HAMPIR KIAMAT

Diskusi Adalah Hal Yang Paling Menyenangkan.

Definisi diskusi adalah pertukaran pikiran, gagasan atau pendapat antara 2 orang atau lebih, yang bertujuan untuk mencari sebuah keputusan. Tetapi tidak semua kegiatan tukar pikiran itu disebut diskusi, karna diskusi itu terarah.

            Diskusi bukan hanya sebuah budaya yang diturunkan secara turun temurun oleh mahasiswa zaman dahulu, yang semata-mata akan hilang pada suatu waktu. Tetapi diskusi merupakan suatu aspek penting yang bisa kita gunakan untuk mengisi waktu luang, ketimbang kita harus menghabiskan waktu untuk berdiam, main hp, laptop, atau  hal lain yang kurang bermanfaat.

            Dengan berdiskusi membuat kita menjadi lebih cerdas, kritis, serta inovatif dalam perkuliahan, karena kegiatan  tersebut membuat fikiran kita makin luas dalam memandang materi karena banyak sumber yang kita temui.

Kebanyakan mahasiswa sekarang sudah terserang oleh arus materialisme yang membuat mahasiswa tersebut menjadi apatis, pragmatis, dan hidonis. Mahasiswa yang sudah terkena wabah virus tersebut tentu saja tidak akan tertarik terhadap aktifitas diskusi, mereka lebih tertarik pada acara-acara hiburan yang memberikan kesenangan yang instan. Tak heran jika ini sangat banyak organisasi-organisasi kampus yang lebih fokus untuk membuat acara-acara hiburan demi meraup keuntungan dibanding membuat forum-forum diskusi yang mampu menunjang kemajuan intelektual mahasiswa. Tak sedikit juga organisasi mahasiswa yang membuat acara diskusi seperti seminar, tapi kebanyakan seminar yang dibuat hanya untuk meraup keuntungan saja, bukan untuk menunjang kemajuan intelektual mahasiswa, walaupun tidak semua organisasi seperti itu.

Dikampus-kampus sudah sering kita jumpai kelompok-kelompok mahasiswa yang sedang berdiskusi, di taman, perpustakaan, dll.

            Dunia kampus sesungguhnya menjadi dunia yang terasa hambar bagi mahasiswa/i yang haus akan luasnya dunia intelektual tanpa sebuah forum diskusi. Mahasiswa sebagai kaum intelektual sesungguhnya sangat membutuhkan forum diskusi yang merupakan sebuah wadah untuk membantu mahasiswa mengembangkan potensi-potensi yang ada khususnya dalam bidang akademik.

            Bahkan dunia diskusi sudah seperti kuburan, tidak ada gagasan baru yang berjejalan keluar kepermukaan, ini juga menjadi indikasi tiadanya atensi pada dialektika pengetahuan.

            Membaca, menulis, dan diskusi, itulah budaya yang semestinya melekat pada setiap diri mahasiswa. Jika 3 hal itu saja belum ada dalam diri mahasiswa, maka tidak pantas mengaku dirinya mahasiswa sebagai agen perubahan.

            Perbedaan mahasiswa yang aktif dalam diskusi dengan mahasiswa yang hanya datang lalu pulang. Mahasiswa yang aktif dalam berdiskusi biasanya akan aktif didalam kegiatan perkuliahan, karena mampu menganalisa persoalan dengan baik, sehingga mampu memberikan solusi untuk setiap persoalan yang dihadapi. Selain itu, kebiasaan berdiskusi membuat kita peka terhadap isu-isu yang sedang merebak dikampus. Sedangkan mahasiswa “kupu-kupu” akan sering terdiam dan pasif dikelas karena didalam hatinya muncul rasa ragu untuk mengeluarkan pendapatnya.

            Sudah saatnya kita bangun jangan sampai sikap hedonis membuat kita menjadi apatis dengan budaya sendiri. Berdiskulah satu-satunya jalan untuk menjadi mahasiswa intelektual di segala bidang.

Biodata penulis:

Nama: Mawardi

Ttp: Puuk, 21Juni 1998

Alamat: Puuk, Samudera, Aceh Utara

Perguruan Tinggi: IAIN Lhokseumawe

Jurusan: Hukum Keluarga Islam

Fakultas: Syariah

Tahun Akademik: 2016

Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Lhokseumawe-Aceh Utara

Ketua SPMA Di Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe.

#Tags: SPMA

#SPMA IAIN LHOKSEUMAWE

#SPMA ACEH UTARA-LHOKSEUMAWE

Tags

Tentang Penulis

theleader

Tambahkan komentar

Klik di sini untuk memberi komentar

%d blogger menyukai ini: