Profil

 Karakter Pemimpin untuk Aceh Progressive

 Karakter Pemimpin untuk Aceh Progressive

Penulis:  Elisa Danur

Bicara mengenai Aceh di masa depan mau seperti apa? Pastinya tak lepas dari karakter seorang pemimpin. Pemimpin yang diharapkan merupakan pemimpin muda yang berintegritas dan memiliki kemampuan Leadership yang baik serta berwawasan intelektual. Nah, kemampuan Leadership itu sendiri kalau dari pandangan saya mempunyai komponen seperti personal branding dan literasi yang baik. Dua komponen yang menurut saya penting ini, sering disepelekan oleh kita sebagai muda mudi masa kini atau bahasa brandnya “anak muda kekinian” terutama kita  Mahasiswa sebagai agent of change, agent of technology and social control serta sebagai iron stock.

Padahal Mahasiswa diharapkan mampu menjadi kader pemimpin yang dapat mengubah Aceh ke arah yang lebih baik dan progressive dimasa yang akan datang. Dari opini saya diatas, bisa dibilang saya tertarik untuk membahas dua komponen yang menurut saya penting ini..

Menurut Yuni Lasti Faulida, Junior Partner dari Expert Consultant menjelaskan, bahwa personal branding adalah cara dan proses kita memasarkan diri kepada oranglain atau komunitas yang menjadi target kita.

Nah, yang dimaksud “memasarkan” disini bukan dalam arti konotasi negative, namun lebih ke positivenya yakni memperkenalkan siapa kita dan keahlian kita. Menciptakan atau membangun personal branding itu tak sulit juga tak gampang. Kita bisa membangunnya dengan membenahi diri kita, paradigma kita dan akun media sosial kita. Dari ketiga point tersebut juga dapat dilakukan dengan menerapkan tiga budaya yang sebenarnya tidak bisa ditinggalkan dari kegiatan dan kebiasaan kita sebagai agen perubahan yaitu Mahasiswa. Ketiga budaya ini bisa dikatakan sebagai ciri khas, budaya itu ialah membaca, menulis dan berbicara. Secara integral budaya ini disebut sebagai “Literasi”. Mahasiswa dengan sederet titel dan perannya dianggap sebagai figure penting yang mampu memberikan kontribusi dan dedikasi real terhadap lingkungan dalam konteks sosial.

Kekuatannya sebagai seorang elite intelektual, dituntut untuk memberikan pemikiran cerdas yang mampu dieksekukusikan secara real dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut kacamata saya sudah menjadi kewajiban sebagai mahasiswa mampu berliterasi agar cenderung mudah menyampaikan gagasan, berpengetahuan luas, mengeluarkan pemikiran positive dan merangsang penalaran kritis. Sehingga Leadership Developmentnya tersampaikan dalam konteks kecerdasan dan keterampilan membaca, menulis dan berbicara. Seorang Leader yang merupakan speaker diyakini dapat menyampaikan orasinya karena public  speakingnya yang bravo. Nah, public speaking yang “bravo” ini dapat ditumbuhkan dengan budaya literasi. Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat “jika ingin mengenal dunia kuncinya membaca, dan jika ingin dikenal dunia kuncinya berbicara”.  Sehingga kata-kata itu singkatnya dapat dikatakan sebagai bagian dari budaya Literasi.

Dari ulasan singkat saya diatas dapat disimpulkan bahwa antara personal branding dan literasi itu saling keterikatan untuk menjadi satu kesatuan penting yang dimiliki oleh seorang “Leader”. Terlebih ketika kondisi Aceh seperti sekarang ini, perlu pemimpin yang tidak hanya “pintar” tapi juga “kritis” dimana kritis itu hanya dimiliki bagi mereka yang “cerdas” untuk membangun Aceh kedepannya agar lebih progressive. Saya yakin masa depan bangsa itu ada dikepalan tangan para “Leader Muda” sebagai “elite intelektual” untuk mengelorakan perubahan yang lebih baik..