Opini

Melawan Lupa Tragedi Berdarah

ACEHGEMILANG.COM | Abdul hamid  Yang sering dikenal dengan sebutan Hamid salah satu Mahasiswa Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh, Aceh Utara.

Aceh merupakan salah satu provinsi yang di tindas dengan sangat tragis di masa DOM (Darurat Operasi Militer) dengan tindakan pelanggaran HAM yang sangat transparansi terjadi di Bumi Serambi Mekkah mulai dari pembantai massa yang disaksikan oleh keluarga dan anak-anaknya yang masih kecil namun meraka hannya bisa mengeluarkan cucuran air mata darah di depan para TNI (Tentara Negara Indonesia) yang berseragam koreng dengan tampilan gagah perkasa, pada saat itu bukan hannya rakyat biasa yang diincar bahkan para Ulama dan dayah-dayah di  bumi Aceh menjadi target pertama ketika masa Darurat militer di Aceh.

Merosotnya pendidikan anak-anak bangsa Aceh yang terlantar putus sekolah dikarenakan ayahnda tercinta mereka sebagai penafkah dalam keluarga telah menjadi korban pembantai sehingga padasaat itu banyak Janda yang harus menjadi pengganti tulang punggung keluarganya untuk bisa menafkahi anak-anaknya dalam mempertahankan hidub suapaya tidak mati kelaparan.

Setelah MOU Helsinki yang ditandatangani dalam rangkap tiga di Helsinki, Finlandia, pada hari Senin, tanggal 15 Agustus 2005 setelah hari perdamain tersebut hingga hari ini Senin,26 Maret 2018 masi kita pertanyakan bagaimana dengan keadaan anak-anak yatim piatu yang orang tuanya menjadi korban konflik pada saat itu sungguh tidak ada yang peduli  kepada mereka, bahkan rumah-rumah yang di bakar pada saat masa DOM (daerah operasi militer) sampai hari ini tidak ada perbaikan.

Kemanakah mereka pihak-pihak elit pemerintah di Aceh apakah mereka memiliki penyakit katarak mata sehingga mereka rabut dalam penglihatan aneuk nangro yang terlantar, Dulu lantunan suara yang merdu dan rayuan mengajak dan menyuruh mereka dengan harapan dalam mempertahankan kemerdekaan Serta kedaulatan Bangsa Aceh tetapih hari ini kalian tidak ada rasa peduli moralitas kepada mereka korban penindasan.

Kemanakah penegak hukum HAM (Hak Asasi Manusia) apakah mata kalian sudah rabun untuk melihat kejadian berdarah di tanah serambi mekkah ini. Kejadian berdarah di Aceh adalah salah satu pelanggaran HAM yang sangat tragis.

“Fakta semasa DOM di Aceh yang di bantai dan si pembantai sama-sama mengucapkan lafal Allahu Akbar dan pada saat DAMAI permainan mani politik semakin merajalela oleh para elit Koruptor mereka juga dengan gembira hati mengucapkan “Alhamdulillah”, Aku beri gelar untuk kalian dengan gelar King Koruptor”. Kutipan dari Bangda Musliadi Salidan