Opini

Hoax, Menghancurkan Persahabatan Memundurkan Peradaban

Hoax, Menghancurkan Persahabatan Memundurkan Peradaban

Oleh: Khairul Rijal

Masyarakat Nagan Raya saat ini umumnya sangat senang berbagi informasi. Hal ini dibarengi dengan perkembangan teknologi digital yang penetrasinya menjangkau berbagai kalangan tanpa mengenal usia tua atau muda. Dengan perkembangan pesat dari teknologi digital ini mampu menjadikan masyarakat lebih produktif dalam mencapai kesejahteraan. Namun, rupanya hal ini menimbulkan suatu polemik baru. Informasi benar dan salah menjadi campur aduk.

Nagan Raya sedang dilanda oleh berbagai persoalan yang terancam memecah belah persaudaraan dan memundurkan peradaban. Salah satu dari ancaman nyata tersebut adalah kabar hoax. Dunia maya di negeri ini terus menerus dihujani oleh kabar hoax. Informasi tidak benar itu bertebaran di dunia maya secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Sangat banyak dari masyarakat umum yang tidak melakukan verifikasi dan konfirmasi terlebih dahulu yang secara terbuka menerima sampah informasi tersebut dan menelannya mentah-mentah sehingga akan memberikan dampak yang sangat besar. Informasi tersebut mengancam kesatuan dan persatuan di negeri yang kita cintai ini, sehingga persoalan ini merupakan persoalan yang perlu kita tanggapi secara serius.

Sebenarnya hoax bukan menjadi masalah di Nagan Raya saja melainkan adalah masalah global yang bagi seluruh penggiat media sosial. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi, pada akhir 2016 terdapat sedikitnya 800 situs yang diduga menjadi aktor utama dalam beredarnya virus hoax, dan ujaran kebencian. Sampah informasi ini beredar melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter dan media sosial lainnya. Menilik dari banyaknya angka tersebut jelas bahwa sampah informasi ini tidak boleh dibiarkan menjelajah secara begitu saja. Perlu kita tanggapi secara serius dan tak boleh dipandang sebelah mata. Internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk memperoleh keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai masyarakat.

Sanksi bagi penyebar informasi hoax bisa dikenakan hukuman sesuai yang tercantum dalam undang-undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa “penyakit hati itu laksana belang diwajah seseorang yang tak punya cermin. Jika diberitahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya”. Demikianlah persoalan yang dihadapi di negeri ini sangat banyak dari masyarakat menolak kebenaran yang nyata dan memilih kepada hal yang salah dengan ego karena terprovokasi dengan kabar hoax dan ujaran kebencian.

Memang benarlah ungkapan dari sebahagian orang bahwa jika dulu para leluhur berpendapat bahwa mulutmu harimaumu, sekarang berganti menjadi jarimu adalah harimaumu. Hal ini dikarenakan ketika jemari tak dapat dikendalikan, dan akal pikiran pun mengizinkan maka tak ada penghalang untuk dirinya untuk menyebarkan sampah informasi dan ujaran kebencian terhadap orang lain. Tak sedikit pihak-pihak tertentu disudutkan pada perkara yang tidak benar, dan tidak bisa di buktikan sehingga timbulah rasa saling tidak mempercayai atau bahkan sakit hati. Hal demikian lah yang tidak hanya menghancurkan tali persahabatan dan ukhuwah sebagai makhluk sosial melainkan juga menyebabkan kemunduran peradaban.

Fenomena pendistribusian berita atau menyebarkan berita bohong ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i. Ia menyebutkan bahwa kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tidak terlihat atau samar). Sebagaimana tertuang dalam Ar-Risalah “Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.” Dalam Iryadul ‘Ibad ila sabilir Rasyad, Abdul ‘Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafi’i memaparkan redaksi kalimat secara lebih jelas “Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Saya sebagai alumni #SPMANaganRaya mengajak saudara-saudari di Nagan Raya khususnya untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sosial media. Misalnya, memastikan terlebih dahulu akurasi konten yang akan dibagikan, mengklarifikasi kebenarannya, memastikan manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya. Kita juga tidak boleh terbakar oleh ajakan yang memprovokasi dan mengikuti ego sepihak yang akan merugikan orang lain yang justru nanti akan berimbas pada diri sendiri. Kita semua adalah bersaudara, jika ada anggota tubuh dari saudara kita sakit tentulah kita akan sakit, begitulah sebaliknya. Sesama saudara tidaklah dibenarkan untuk mengumbar berita fitnah dan mencaci. Marilah kita jadikan media sosial sebagai sarana menebar kebaikan, meningkatkan produktivitas dan mencapai kesejahteraan bersama. Kita harus bijak menempatkan diri dalam suatu persoalan dan bersikap seadil-adilnya untuk kebahagiaan dan kemashalatan umat.

Dunia maya sejatinya diibaratkan seperti sebuah kapal. Kita bertindak sebagai nakhodanya. Apabila kita membawa kapal tersebut dengan benar, maka sampailah kapal tersebut ke pelabuhan. Namun jika kita membawa kapal dengan cara yang salah maka kapal tersebut bisa membentur karang dan tenggelam. Marilah kita memilih dengan bijak.

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment