Opini

Pemuda dan Masa Depan Aceh

Pemuda dan Masa Depan Aceh

Oleh:  Siska Aida Rahmi

Pemuda adalah harapan  bangsa dan motor perubahan. Di tangan merekalah terletak baik dan  buruknya suatu bangsa.  Ketika  pemudanya  baik,  maka  baiklah  bangsa  itu.  Sebaliknya,  bila  pemudanya  buruk (berakhlak buruk), maka bangsa itu tinggal menunggu datangnya kehancuran.

Di pundak pemuda terdapat bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya, baik itu generasi sebelumnya atau sesudahnya. Hal ini karena mereka diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya dan generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus menerus.

Aceh adalah salah satu provinsi yang memiliki 23 kabupaten/kota. Daerah Aceh memiliki  potensi besar dari hasil sumber daya Alam maupun sumber daya Manusia yang melimpah, baik dari sektor dibidang pertanian, perkebunan, dan sumber daya Alam lainnya. Bicara tentang pemuda dan masa depan Aceh dengan segala potensinya, sekarang kita sebagai pemuda pelopor perubahan dimanapun berada. Peran pemuda adalah penentu sejarah perjalanan suatu bangsa.
Sejarah indonesia telah membuktikan peran pemuda tersebut, namun kita tidak bisa selalu melihat kebelakang karena jalan yang akan di lalui ada di depan mata.

Bila  dibuka  lembaran  sejarah,  diketahuilah  bahwa  lahirnya  suatu  peradaban  tidak  terlepas  dari  peran  pemudanya.  Presiden RI pertama, Ir. Soekarno mengatakan,”Berilah aku sepuluh orang pemuda, akan aku  guncangkan  dunia.”  Merujuk  pada  pernyataan  tersebut, Ir. Soekarno  mengakui  bahwa eksistensi pemuda dalam suatu negeri menentukan masa depan negeri tersebut. Pemuda sebagai aset  bangsa  yang  paling  berharga  harus  mendapatkan  perhatian  yang  serius  dari  berbagai kalangan.

Semangat yang sama juga telah dirintis oleh Sultan Iskandar Muda saat memimpin kerajaan Aceh Darussalam pada usia yang juga tergolong sangat muda (catatan sejarah menyebutkan Iskandar Muda memimpin Aceh saat masih berusia 17 tahun).

Merujuk  pada  pernyataan  ”Pemuda  dan Masa Depan Aceh”,  kuantitas  yang  besar  tidak berarti  mengalahkan  kualitas.  Artinya,  jumlah  pemuda  yang  besar  pada  suatu  daerah tidaklah bernilai  apa-apa  ketika  tidak  ada  atau  sedikit  sekali  yang berkarya,  mandiri,  profesional,  serta berakhlak tinggi. Pemuda yang diharapkan itu harus memenuhi dua syarat utama sebagai berikut:  Pertama, kehadirannya tidak menambah masalah. Kedua, kehadirannya memberikan solusi atas masalah yang ada.

”Bukanlah pemuda seseorang yang membanggakan bapaknya. Tetapi, pemuda itu adalah mereka yang menunjukan inilah aku.” (Imam Ali Bin Abu Thalib) Renungkan potongan kalimat ”inilah aku!”. Tidaklah bijak jikalau kita memahaminya sebagai sikap keangkuhan. Tapi, telaahlah lebih dalam! Potongan kalimat tersebut memiliki makna komitmen kuat yang diiringi tindakan untuk berprestasi sebagai seorang pemuda.

Imam Syafi’i mengatakan: ”Hidupnya pemuda itu adalah karena dua hal. Pertama, ilmu. Kedua, takwa. Jikalau kedua hal itu tidak dimilikinya, maka pemuda itu sesungguhnya adalah mati.”  Dari pernyataan  di atas, menurut  Imam  Syafi’i  ada dua hal mutlak  yang harus dimiliki oleh para pemuda, yaitu ilmu dan takwa. Bagaimana halnya, jika hanya salah satu yang dimiliki? Realita  menjawab,  lahirnya  pemuda  yang  setengah  manusia.  Pemuda  yang  berilmu  tapi  tidak  berakhlak  akan melahirkan  para  Fir’aun  baru.  Hal  ini  menjadi  permasalahan  besar.  Takwa  tanpa  ilmu  adalah omong kosong. Ketakwaan lahir dari pemahaman yang dalam dan jelas.

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita, tidak ada batasan umur dalam menuntut ilmu. Rasulullah menegaskan, ”Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat.” (HR Muslim). Lebih dalam tentang ilmu. Sebuah pepatah arab berbunyi, ”Al ilmu nur.” Dalam bahasa Indonesia, ”Ilmu itu adalah cahaya.” Cahaya adalah penerang dalam kegelapan.

Kita tidak rela pemuda kita dicap sebagai pemuda yang bodoh. Kita juga tidak mau diadu domba  lantaran  tidak  berilmu. Sejarah  membuktikan  hancurnya  kekhalifahan  islam  di  Turki delapan dasawarsa yang lalu, hanyalah karena propaganda bangsa-bangsa barat. Dengan slogan the sick man  dari bangsa Barat, Mustafa Kemal Pasya menanggalkan jati diri bangsa Turki, dan berlutut kepada bangsa lain. Patutkah hal ini dicontoh? Masih adakah harga diri sebagai seorang kesatria?  Jawablah  dengan  nurani  kita  masing-masing.  Diakui,  salah  satu  kesalahan  pemuda Turki di saat itu, yakni mengabaikan ilmu.

Di  samping berilmu,  pemuda  juga  harus  bertakwa  kepada  Allah  SWT. Kalaulah  ilmu telah menerangi kegelapan di alam semesta, agar mampu menerangi setiap celah dan lorong di bumi dan dirasakan terangnya oleh setiap makhluk, maka harus dilengkapi dengan takwa. Al Imam Al Ghozali  rahimakumullah  mengatakan, ”Bantinglah otak mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar yang bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa.”

Apa gerangan pemuda Aceh? Baiknya kita amati dulu daerah disekeliling kita ini, maka akan tercermin pemudanya. Rentetan peristiwa dan konflik, baik itu terutama pasca-bencana tsunami dan berakhirnya konflik bersenjata melalui penandatanganan Moratorium of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2006, banjir, tanah longsor, narkoba  merajalela,  miras, skandal  seks, dan tenaga kerja asing,   Semua  datang  silih  berganti,  membentuk  sebuah  siklus,  yang  mata rantainya belum terputuskan. tetap masih menyisakan sederet pekerjaan rumah bagi kita, kaum muda Aceh, menyongsong masa depan perdamaian demi keberlanjutan pembangunan yang berkeadilan di provinsi ini.

Pemuda,  pilih  gelembung  atau  gelombang?  Kalimat  ini  merupakan  analogi  cerdas, sederhana, dan bermakna dalam. Kita tinggal pilih. Apakah kita ingin memilih gelembung atau gelombang. Ketika pemuda memilih gelembung, artinya pemuda hanya bisa bergerak di tempat. Gelembung itu ringan, mudah terombang ambing (mengikuti kemana angin itu membawa, itupun hanya angin yang lemah, jika angin yang kuat maka pecahlah dia) dan bila dia diam maka akan jatuh dan pecah dengan sendirinya.

Lain  halnya  ketika  pemuda  memilih  jadi  gelombang,  aksinya  seperti  gelombang. Gelombang bersifat dinamis. Ia selalu bergerak ke depan tanpa hentinya dari waktu ke waktu. Ia selalu  bersih  dan  membersihkan.  Di  dalam  gelombang  pun  tersimpan  energi  yang  luar  biasa besar, baik yang tampak tenang gerakannya maupun yang benar-benar mengerikan gerakannya, yang siap menghantam terumbu karang yang menjulang.

Untuk itu, menumbuhkan kesadaran utuh kaum muda Aceh, yang memiliki tangan hangat dan bertanggungjawab  adalah pekerjaan mulia yang harus segera diusung pemuda Aceh ke depannya.  Kemudian secara bersama-sama menggerakkan perubahan mental, saling memberi contoh positif dan keteladanan, menghidupkan minat dan prestasi pengetahuan serta kreatifitas untuk masa depan aceh lebih baik lagi.

Selaku  pemuda,  seyogyanya  kita harus  menyikapi  kondisi  di Aceh ini demi masa depan Aceh lebih baik lagi sebagai berikut:

Pertama,  bijaksana.  Sebuah  keharusan  bagi  kita  untuk  beralam  luas,  berpandangan lapang.  Kita  sebagai  agent  of  change  (agen  perubahan)  harus  mengetahui  masalah-masalah pokok di negeri ini. Kita seharusnya berpikir dan merenungkannya. Kita berjuang untuk mampu memberikan solusi praktis buat bangsa ini.

Kedua, senantiasa bersiap dan siap. Pemuda  harus menyadari bahwa ada empat hal yang harus ada pada diri kita. Keempat hal itu adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Itulah karakter utama  pemuda.  Pemuda  yang  baik  selalu  mengevaluasi  dirinya.  Sudahkah  kita  memiliki  iman yang  kuat,  ikhlas,  senantiasa  bersemangat,  dan  melakukan  amal  kebajikan  dalam  berbagai aktivitas.  Dalam  mengintrospeksi  diri,  kita  harus  tahu  akan  hal-hal  berikut:  Pertama,  dasar keimanan  pada  diri  adalah  nurani  yang  menyala.  Kedua,  dasar  keikhlasan  adalah  hati  yang bertakwa.  Ketiga, dasar semangat adalah perasaan yang bergelora.  Keempat, dasar amal adalah kemauan  yang  kuat.  Introspeksi  diri  adalah  langkah  solutif  dan  prestatif.  Orang  yang  selalu memuhasabah dirinya, maka ia akan mengenal dirinya. Siapa saja yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Semoga ini menjadi jalan arah pencapaian yang dimaksud segera dirintis dan dinasionalisasikan dalam bingkai yang lebih luas untuk Aceh yang lebih baik, dan tangan pemuda yang mampu mengguncang dunia tidak hanya menjadi slogan samata. Sehingga ke depan potensi besar yang dimiliki pemuda dapat menjadi agen perubahan menuju peradaban yang lebih baik.

 

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment