Opini

Menanggulagi Bencana Nagan Raya Tanpa Efek Negatif

Menanggulagi Bencana Nagan Raya Tanpa Efek Negatif

*Penulis Nana Yunisa

*SPMA Nagan Raya

Masalah banjir cenderung meningkat dari tahun ke tahun terutama disebabkan oleh adanya perubahan watak banjir. Bencana banjir yang terjadi begitu berdampak negative terhadap masyarakat dimana masyarakat mengalami kerugian yang cukup besar secara materi, hal itu disebabkan karena 70% masyarakat di Nagan Raya sumber penghasilannnya dari sector pertanian. Opini ini saya tulis untuk mencari solusi atas bencana alam yang terjadi di Kabupaten Nagan Raya.

Kabupaten Nagan Raya adalah sebuah kabupaten di provinsi Aceh, Indonesia dengan ibu kota Suka Makmue. Jarak tempuh dari ibukota provinsi Aceh (Banda Aceh) menuju Nagan Raya Lebih Kurang 287 KM atau lebih kurang 6 jam perjalanan. Kabupaten ini berdiri pada saat pemekaran Kabupaten Aceh Barat yang berdasarkan UU No. 4 tahun 2002 tanggal 2 juli tahun 2002.

Nagan Raya telah berdiri selama 16 tahun dan sudah tiga (3) kali melaksanakan pesta demokrasi. 12 tahun Nagan Raya dipimpin oleh bupati yang bernama Zulkarnaini, 2 tahun ia menjabat sebagai PJ (Penanggung Jawab) dan 10 tahun ia menjabat karena terpilih oleh rakyat dalam pesta demokrasi. Pada masa kepemimpinanya ia telah berhasil membangun nagan raya menjadi sebuah kota yang cukup berpotensi di sector pembangunan diantaranya pembangunan PLTU dan  komplek perkantoran Suka Makmue. Namun pada dua tahun terakhir kepemerintahan Nagan Raya diambil alih oleh H. Jamin Idham pada pesta demokrasi 2016.  Pada masa ini Nagan Raya telah memiliki 10 kecamatan dengan jumlah kelurahan 222 (1.041 keluarga, 3.361 jiwa) diantara sepuluh kecamatan tersebut adalah: 1. Beutong, 2. Beutong Ateuh Banggalang, 3. Darul Makmur, 4. Kuala, 5. Kuala Pesisir, 6. Seunagan, 7. Seunagan Timur, 8. Suka Makmue, 9. Tadu Raya, 10. Tripa Makmur.

Setiap kabupaten memiliki masalah  di daerahnya masing-masing, masalah yang dirasakan oleh masyarakat Nagan Raya di beberapa kecamatannya tak kunjung usai selama tujuh (7) tahun terakhir, dan justru menambah masalah yang baru. Adapun masalah yang dihadapi masyarakat di kabupaten kami ini adalah bencana alam (banjir)  yang terus mendatangi kami setiap tahun, bahkan dalam satu tahun bencana itu datang lebih dari satu kali. Kecamatan-kecamatan yang direndam banjir tersebut diantaranya adalah: 1. Kecamatan seunagan, 2. Kecamatan Tripa Makmur, 3. Tadu raya, 4. Kuala pesisir, diantara keempat kecamatan diatas, yang paling dominan untuk banjir adalah Kecamatan  Tripa Mamur dan ketinggiannya pun mencapai 2 Meter.

 Masyarakat dalam beberapa desa di Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, mengharapkan pemerintah segera mengatasi banjir yang rentan melanda daerah tersebut  di saat musim hujan datang. Keuchik (kades) Lhueng Kubeu Jagat Samsuardi di Nagan Raya, mengatakan selama ini pemkab setempat sudah peduli terhadap kondisi masyarakat yang di kepung banjir dengan mengirim logistic dan semacamnya. “Setiap musibah, Pemkab selalu peduli dengan memberi sembako, pakaian, tenda dan kelambu bagi warga, tapi pemerintah Aceh dan pusat juga punya anggaran banyak untuk mentasi penyebab banjir,”katanya. Tetapi menurut saya  pemerintah sudah harus melakukan tindakan yang nyata untuk mencari jalan keluar atas bencana banjir yang dihadapi masyarakat di daerah tersebut. Karena umumnya masyarakat sudah tidak membutuhkan lagi satu bambu beras dan sebungkus mie indomie, ataupun sembako lainnya. yang mereka butuhkan adalah solusi terhadap bencana banjir yang mereka alami.

 sebelum saya mengeluarkan opini solusi untuk menanggulangi bencana banjir di daerah Nagan Raya, saya akan bahas penyebab terjadinya banjir di beberapa kecamatan tersebut. Bencana alam (banjir) yang terjadi adalah akibat luapan Krueng Lamie di  pemukiman penduduk kerap  melanda karena belum tersedia tebing pengaman yang mampu menahan debit air disetiap musim hujan. Selain itu  banjir juga sering melanda akibat adanya aktivitas pengundulan hutan dan buangan air milik perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan sawit di daerah Nagan Raya.

Berbicara masalah solusi, tentunya akan ada pro dan kontra dengan pihak pemerintah maupun masyarakat. Karena penyebab banjir adalah meluapnya krung lamie, jadi solusinya adalah menampung luapan air dari krung lamie, yaitu dengan cara pembuatan irigasi. Megapa irigasi? Karena jika dibuat irigasi akan banyak dampak positif bagi masyarakat. Dampak positif dari pembangunan irigasi ini adalah perubahan kuantitas dan kualitas tanah dan air akibat irigasi. Dampak positif ini juga terlihat di alam dan lingkungan sosial di hulu dan hilir sungai yang dijadikan sumber irigasi. Dampak lingkungan berakar dari perubahan kondisi hidrologi sejak instalasi dan pengoperasian irigasi. Irigasi sebagian besar mengambil air dari sungai dan mendistribusikannya ke area yang diirigasikan. Dampak langsung dari hal tersebut adalah berkurangnya debit hilir sungai dan peningkatan evaporasi Penggenangan air permanen (waterlogging) juga dapat terjadi karena tinggi muka air tanah meningkat hingga menenggelamkan akar tanaman. Pada sungai yang di bendung untuk ditinggikan permukaan airnya untuk irigasi, akan terjadi risiko relokasi permukiman manusia yang tinggal dekat dengan sungai.

Proyek irigasi dapat menguntungkan secara finansial bagi perekonomian individu, wilayah, dan negara. Sekitar 16% dari seluruh kawasan pertanian yang ada di dunia telah teririgasikan. Hasil pertanian dari lahan yang teririgasikan itu mencakup 40% dari total hasil pertanian dunia. Meski demikian, dampak negatif dari irigasi seringkali diabaikan meski signifikan. Bendungan di Nigeria yang selesai dibangun pada tahun 1968 telah menyebabkan relokasi warga di sekitar sungai karena tinggi permukaan air sungai meningkat. Bendungan ini pada tahun 1999 menimbulkan masalah karena debit air yang berlebih memaksa pembukaan pintu limpasan. Lebih dari 60 desa dan sekitar 60% lahan pertanian terendam.

Selain itu dengan adanya pembangunan irigasi nantinya akan menarik minat para wisatawan (luar daerah maupun dalam daerah) untuk berkunjung ke Tripa Makmur dan juga bisa menjadi pendapatan daerah dari para wisatawan yang berkunjung ke irigasi terlebih pada waktu-waktu tertentu, misalnya hari-hari besar islam, lebaran, megang, dan hari-hari tertentu lainnya. Adapun dampak positif lainnya juga bagi masyarakat atau penduduk yang ingin membuka usaha warung atau café bisa memberi peluang  untuk menambah penghasilan mereka. Dan kalau ini benar terlaksana sungguh akan terlihat kemajuan bagi Nagan Raya.