Gagasan

Jokowi-Prabowo, Saling Jual Jurus Ekonomi, Siapa Lebih Jitu ?

Jokowi-Prabowo, Saling Jual Jurus Ekonomi, Siapa Lebih Jitu ?

Oleh : Ucie Siregar

Pengamat kebijakan publik Universitas Padjajaran Yogi Suprayogi menilai isu ekonomi memang isu yang tepat dimainkan kubu Prabowo guna melawan Jokowi tahun depan. Secara kebetulan, menurut Yogi, momentum itu menjadi tepat karena kondisi ekonomi saat ini yang tampak kurang begitu bagus. Dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di luar negeri pun diakui Yogi akan juga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.

“Isu yang akan diusung oleh Prabowo pun bagus, apalagi menyoroti soal ekonomi,” kata Yogi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Mengamati dinamika perpolitikan dalam sistem Demokrasi memang tak pernah jelas, membingungkan dan tak tentu arah. Kedua kubu baik Jokowi dan Prabowo saling beradu program demi memenangkan suara rakyat. Kali ini program yang diadu adalah bidang ekonomi. Jokowi menggaet Ma’ruf Amin yang diakui ahli dalam ekonomi syariah, sementara Prabowo menggaet Sandi yang diakui pengusaha sukses dan juga erat hubungannya dalam bidang ekonomi.

Sayangnya, kedua kubu ini tetap menjadikan ekonomi kapitalis sebagai pijakannya. Tak ada yang berbeda. Sekalipun Ma’ruf dikenal ahli dalam bidang perbankan syariah, tetap saja banyak aktivitas perbankan syariah yang perlu dikritisi. Karena pada faktanya masih banyak produk perbankan syariah yang tidak sesuai dengan syariat, seperti fatwa MUI tentang penghimpunan dana yaitu giro, tabungan dan deposito syariah yang masih menyalahi hukum Islam. Apalagi MUI menghalalkan asuransi syariah yang jelas-jelas asuransi itu diharamkan, bertentangan dengan hukum Islam. Sekalipun di labeli dengan kata “syariah”.

Sementara Prabowo- Sandi mengangkat isu ekonomi dengan melontarkan kritik kepada program ekonomi Jokowi yaitu kebijakan utang dan impor. Sandi memandang kebijakan tersebut tidak tepat sasaran. Harusnya utang bisa berkontribusi konkret terhadap penciptaan lapangan pekerjaan yang luas. Begitu juga dengan impor, dia mengkritik agar impor betul-betul berpihak kepada kepentingan masyarakat. Dengan kata lain, dia mengatakan jangan sampai impor malah membuat masyarakat terutama pekerja di bidang produksi menjadi tertekan.

Artinya Prabowo-Sandi tidak menentang kebijakan utang dan impor Jokowi. Tetap akan menggunakan kebijakan tersebut, hanya sekedar mengkritik dan mencoba menggunakan cara yang dianggapnya lebih jitu daripada yang dilakukan Jokowi. Padahal sudah jelas dua kebijakan ekonomi (utang dan impor) merupakan kebijakan kapitalistik yang sama-sama tidak berpihak pada rakyat.

Jadi sebenarnya program ekonomi yang digadang-gadang oleh kedua kubu sama saja. Cuma cara dan alokasi dalam menggunakannya saja yang berbeda. Yang satu lebih dialokasikan untuk infrastruktur, sementara kubu yang satu ingin utang dialokasikan untuk penciptaan lapangan kerja. Begitu juga impor, yang satu ingin impor bisa memenuhi kekurangan dalam negeri sementara yang satu lagi inginkan agar impor tidak menekan pekerja dalam negeri.

Semakin nyata, siapapun calon pemimpin yang akan bertarung, kedua pasangan tidak pernah menyentuh sedikitpun permasalahan ekonomi sesungguhnya. Sejatinya permasalahan ekonomi kita bukan terletak siapa yang lebih jitu membuat program, strategi ataupun cara dalam berekonomi. Permasalahan ekonomi kita terletak pada landasan yang digunakan dalam berekonomi yaitu sistem ekonomi kapitalistik lah yang menjadi biang kehancuran ekonomi Indonesia. Utang, Impor, menjual BUMN dan sebagainya, semua kebijakan ini adalah kebijakan kapitalistik yang harus ditolak dan di tentang. Karena kebijakan ini tidak akan pernah bisa menyelesaikan segala persoalan ekonomi masyarakat. Baik kemiskinan, tidak adanya lapangan pekerjaan, ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok antara Si Kaya dan Si Miskin tak akan bisa diselesaikan selama yang dianut masih dalam sistem ekonomi kapitalistik.

Sementara dalam sistem ekonomi Islam, dalam menyelesaikan persoalan ekonomi rakyat yang dipimpinnya sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis, negara Islam memiliki sumber pemasukan yang tetap dan jelas diantaranya dari fa’i, ghanimah, anfal, kharaj, jizyah dan pemasukan dari hak milik umum dengan berbagai macam bentuknya, pemasukan dari hak milik negara, usyur, khumus, rikaz, tambang serta harta zakat. Begitu juga dengan pengeluaran negara Islam, segala pengeluaran dikeluarkan sesuai dengan apa yang telah di nashkan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. Seperti sumber pemasukan dari harta zakat, tidak akan pernah bisa dikeluarkan peruntukannya selain untuk 8 ashnaf saja. Begitu juga pengeluaran, untuk jihad, fakir miskin, Ibnu sabil, hak tersebut bersifat paten. Jadi jelas sekali sumber pemasukannya dan diperuntukkan kemana saja.
Tidak seperti ekonomi kapitalistik, yang sumber pemasukannya hanya berharap dari pajak yang dibebankan pada rakyat. Jika tidak mencukupi negara yang menganut ekonomi kapitalis akan berhutang ke negara luar, karena tidak ada sumber pemasukan lain selain dari pajak. Padahal jelas hutang ini tentunya akan menyandera negara-negara pengutang. Menjadikannya semakin terjebak, lama-kelamaan hancur ekonominya dan terjual negaranya. Parah.

Sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam. Sistem yang berlandaskan kepada aqidah Islam. Sistem yang lahir dari Zat yang paling mengerti bagaimana mengurus kehidupan, termasuk dalam hal ekonomi. Sistem yang bukan sekadar menjelaskan tentang sistem ekonomi, namun juga menjelaskan sistem yang lain, seperti pendidikan, pergaulan, politik, pemerintahan dan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat diatur secara menyeluruh di dalam sistem Islam. Tak bisa terlepas antara satu sistem dengan sistem lainnya, sebagaimana tak bisa terlepas sistem pergaulan dengan sistem pendidikan, begitu juga tak bisa terlepas sistem ekonomi dengan sistem pemerintahan, dan seterusnya. Semua sistem harus diterapkan secara menyeluruh dan terintegrasi. Sistem Islam yang menyeluruh ini tidak akan pernah membingungkan, terarah karena semuanya berdasarkan kepada aqidah yang tetap, tak kan berubah.

Wallahu A’lam bisshawab

Tags

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment