Profil

Pendidikan Islami Berbasis Akhlakul Karimah Sebagai Upaya Menciptakan Generasi Anti Korupsi

Pendidikan Islami Berbasis Akhlakul Karimah Sebagai Upaya Menciptakan Generasi Anti Korupsi

*Oleh : Nuzulul Rahmah

Korupsi merupakan salah satu dari sekian istilah yang kini telah akrab di telinga masyarakat Indonesia, hampir setiap hari media massa memberitakan kasus korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara baik pejabat daerah maupun pejabat kelas kakap yang bertuan rumah di ibukota Jakarta. Dalam kepustakaan kriminologi, korupsi merupakan salah satu kejahatan jenis white collar crimeatau kejahatan kerah putih. Akrabnya istilah korupsi dikalangan masyarakat telah menunjukkan tumbuh suburnya praktik tindak korupsi di Indonesia. Sebagaimana diketahui korupsi telah sejak lama terjadi di Indonesia, Praktik-praktik seperti penyalahgunaan wewenang, penyuapan, pemberian uang pelicin,pungutan liar, pemberian imbalan atas dasar kolusi dan nepotisme serta penggunaan uang negara untuk kepentingan pribadi, oleh masyarakat diartikan sebagai suatu perbuatan korupsi dan dianggap sebagai hal yang lazim terjadi di negara ini. Ironisnya, walaupun usaha-usaha pemberantasannya sudah dilakukan lebih dari empat dekade, namun praktik-praktik korupsi tersebut tetap berlangsung, bahkan ada kecenderungan modus operasinya lebih canggih dan terorganisir, sehingga makin mempersulit penanggulangannya. Timbulnya kejahatan korupsi ini menunjukkan bahwa tidak hanya kemiskinan saja yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, melainkankemakmuran dan kemewahan juga merupakan faktor pendorong orang-orang melakukan kejahatan.

Mantan ketua KPK Chandra Hamzah mengatakan bahwa “masalah korupsi bukan masalah hukum, tetapi kultur karakter orang”. Maka oleh itu, pembentukan karakter sejak dini sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi anti korupsi. Menghasilkan generasi anti korupsi merupakan suatu alternatif untuk mewujudkan Indonesia sejahtera bebas dari korupsi. Karena untuk menghilangkan korupsi  yang sudah menjadi darah daging bangsa kita merupakan suatu hal yang amat sangat sulit untuk dilakukan. Saya teringat kata dosen pendidikan saya, beliau berkata bahwasannya untuk  menghasilkan peserta didik yang baik diperlukan pendidik yang baik, profesional, serta mampu untuk beradaptasidengan perubahan zaman . Namun saat ini masih banyak guru kita yang  belum bisa berubah sesuai tuntutan zaman, masih banyak diantara mereka yang mengajar dengan hanya memberikan catatan, tidak tahu menahu tentang keadaan lingkungannya.Guru yang  sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, mau diberikan sosialisasi bagaimanapun, sosialisasi berapakalipun dia juga akan berpihak pada zona amannya. Nah,terus solusinya bagaimana? Tunggu mereka pensiun! jangan habiskan waktu kita untuk merubah mereka. Tugas kalianlah untuk merubah wajah pendidikan indonesia ke arah yang lebih baik kedepannya. Tugas kami saat ini adalah memupuk kalian menjadi generasi penerus yang mampu untuk mewujudkan Indonesia emas melalui bidang pendidikan.

            Kesimpulan yang dapat kita ambil dari ungkapan dosen saya diatas adalah bukan tugas kita untuk merubah para koruptor untuk menjadi mantan koruptor, karena sepandai-pandainya tupai melompat,tiba masanya jatuh jua. Begitupun para koruptor terhormat di negara kita, selicik-liciknya mereka mengambil uang rakyat, tiba masanya KPK datang jua. Sebaliknya, tugas yang  harus kita lakukan sekarang adalah mencetak generasi bangsa yang anti terhadap korupsi. Pemuda adalah agent of the change, yang mana dipundak merekalah Indonesia kedepan berada. Oleh karena itu penulis menyarankan  “pendidikan islami yang berbasis akhlakul karimah” sebagai upaya menciptakan generasi anti korupsi.

Menurut Ahmad Amin dalam bukunya “ Al-Akhlak” merumuskan pengertian akhlak sebagai berikut : “Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat”. Dan juga menurut Imam Hamid al-Ghazali merumuskn pengertian akhlak “Akhlak  adalah suatu sifat yang terpatri dalam jiwa yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu,serta dapat diartikansebagai suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya”. Sedangkah karimahdalam bahasa arab artinya terpuji, baik atau mulia. Maka dapat disimpulkan bahwa maksud dari akhlakul karimah adalah segala budi pekerti baik yang ditimbulkan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang mana sifat itu menjadi budi pekerti yang utama dan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Pendidikan islami berbasis akhlakul karimah merupakan metode yang tepat untuk mencetak generasi  islami yang tentunya paham betul akan perintah dan larangan dari Allah SWT.  Pendidikan berbasis akhlakul karimah hendaknya diajarkan sejak dini, untuk menciptakan ahklak anak yang lebih baik. Ada banyak metode yang dapat kita gunakan sebagai acuan untuk menanamkan serta membina akhlakul karimah kepada anak-anak kita. Diantaranya :

  1. Akhlakul karimah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak sebagai acuan dalam beraktifitas

Tugas orangtua untuk mengajarkan anaknya dengan pendidikan akhlak. Orangtua adalah guru pertama bagi anak, mereka memerankan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Maka dari itu sangat penting bagi orangtua untuk menanamkan sifat-sifat terpuji kepada anak sejak dini seperti jujur, adil, rendah hati, bijaksana,dll. Pendidikan akhlakul karimah ditujukan untuk membentuk kepribadian positif pada anak sejak dini dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bertingkah laku.Dan perlu digaris bawahi bahwasannya Anak-anak sering sekali menjadikan kedua orangtuanya sebagai teladan dalam bertindak dan bergaul. jika orantua mereka beraktifitas dengan berlandaskan pada Al-Qur’an, maka anak-anak mereka juga akan begitu .

  1. Akhlakul karimah ditanamkan dalam diri anak dengan cerita-cerita islami

Banyak sekali cerita islami yang mengisahkan tentang tokoh-tokoh hebat islam, baik yang menceritakan tentang perjuangan maupun tentang kepemimpinan tokoh. Cerita tersebut ada yang termuat dalam Al-Qur’an atau hadis dengan harapan anak-anak bisa meniru mereka. Seperti menceritakan begitu adilnya kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz serta kesederhanaan yang melekat pada dirinya.

  1. Akhlakul karimah dipupuk dengan kebiasaan

Untuk melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap anak diperlukan pembiasaan. Misalnya agar anak dapat melaksanakan shalat secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan shalat sejak kecil, dari waktu ke waktu.

Dalam metode ini sangat diperlukan kesabaran dan perhatian dari orangtua maupun guru yang mendidik anak-anak. Serta diperlukan ketelitian dalam melihat perkembangannya mulai dari belum pernah sampai akhirnya terbiasa dengan berakhlak mulia.

  1. Akhlakul karimah dibina dengan nasehat

Metode inilah yang paling sering digunakan dalam proses pendidikan. Memberikan nasehat merupakan kewajiban umat islam. Rasulullah SAW bersabda, “agama itu adalah nasehat”. Maksudnya adalah agama itu berupa nasehat dari Allah SWT bagi umat manusia melalui para nabi dan rasul-Nya agar manusia hidup bahagia, selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat. Selain itu mengajarkan agamapun dapat dilakukan melalui nasehat. Setiap anak membutuhkan nasehat, sebab jiwanya terdapat pembawaan yang tidak tetap.

  1. Akhlakul karimah dibina dengan perhatian

Metode ini biasanya berupa pujian dan penghargaan. Seperti contohnya memberikan penghargaan kepada anak karena telah mengerjakan ibadah puasa dengan penuh. Pujian dan penghargaan dapat berfungsi efektif apabila dilakukan pada saat dan cara yang tepat, serta tidak berlebihan.

  1. Akhlakul karimah terkadang perlu dibina dengan metode hukuman

Metode ini sebenarnya berhubungan dengan pujian dan penghargaan. Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain itu terdiri dari dua, yaitu penghargaan (reward/targhib) dan hukuman (punisment/tarhib). Hukuman dapat diambil sebagai metode pendidikan apabila terpaksa atau tidak ada alternatif lain yang bisa diambil. Hukuman diambil apabila metode-metode yang lain sudah tidak dapat mengubah tingkah laku anak.

  1. Memanfaatkan full day school untuk memupuk akhlakul karimah siswa

Saya pernah mengikuti rapat wali murid siswa SMP N1 Seulimeum tentang sosialisasi pendidikan sekolah terpadu, dimana siswa sekolah selama 8 jam dari pagi hingga sore. Pada sosialisasi ini pemateri menjelaskan bahwa siswa belajar seperti biasa dari pagi sampai siang, sedangkan waktu sorenya digunakan untuk pendidikan karakter anak atau dalam istilah lain pendidikan akhlakul karimah siswa. Pada sore harinya siswa lebih difokukan pada pendidikan islami seperti mempelajari Al-Qur’an, membaca kitab dan tentunya memupuk dan membina akhlakul karimah siswa. Pendidikan islami yang terpadu ini merupakan program dari pemerintahan kabupaten Aceh Besar guna mencetak generasi islami yang teguh dalam iman dan takwa. Sebenarnya program ini adalah program nasional yaitu full day scholltetapi pemerintahan kabupaten Aceh Besar mengimplementasikan kepada pendidikan sekolah terpadu.Nah, jika semua kabupaten yang ada di Aceh bahkan Indonesia menerapkan program serupa insyaallah negeri ini akan mampu untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang berdedikasikan pada akhlak muliayang mampu membawa perubahan besar pada kemajuan Indonesia.

Mewujudkan negara yang bebas dari korupsi memang bukanlah suatu hal yang mudah, merupakan tanggung jawab kita bersama untuk membantu mewujudkannya. Gerakan anti korupsi bukannya hanya tentang KPK, masyarakat juga harus ikut andil dalam menyuarakan gerakan ini. Pendidikan islami berbasis akhlakul karimah merupakan program yang harus diperankan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia terutama para orangtua dan juga guru dalam menciptakan generasi anti korupsi. Pendidikan akhlakul karimah yangberpegang teguh pada Al-Qur’an diharapkan dapat membentuk karakter anak-anak bangsa yang mengedepankan akhlak daripada intelektualnya. Seperti kata Prof.Dr.H.Rahmat Djanika : “Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak yang mulia. Maka apabila akhlak yang baiknya telah hilang maka hancurlah bangsa itu”. Generasi anti korupsi bukan hanya dibangun melalui kalimat anti korupsi, diadakan sosialisasi yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tetapi dipupuk sejak dini dan dibina hingga mati melalui akhlak yang terpatri. Akhlak yang mulia mampu membawa tuannya kepada kebahagian yang hakiki tanpa harus melakukan tindak korupsi.

  1. IDENTITASPRIBADI PENULIS
  2. Nama : Nuzulul Rahmah
  3. Tempat,Tanggal Lahir :Capeung, 05 agustus 1998
  4. JenisKelamin : Perempuan
  5. Agama           : Islam
  6. Status : BelumKawin
  7. Pekerjaan : Mahasiswa
  8. Alamat :Seulimeum, Aceh Besar, Aceh
  9. NomorHp : 085288954122
  10. NomorWa :085288954122
  11. Email          : rahmadahlan98@gmail.com

Saya Nuzulul Rahmah, mahasiswa pendidikan Fisika Universitas Syiah Kuala. Pertama sekali menginjakkan kaki pada kampus jantoeng hate rakyat Aceh pada tahun 2016.