Anti Korupsi

Tanamkan Benih Rasa Malu Sejak Dini Sebagai Langkah Awal untuk Menciptakan Generasi Hebat yang Malu untuk Korupsi

Tanamkan Benih Rasa Malu Sejak Dini Sebagai Langkah Awal untuk Menciptakan Generasi Hebat yang Malu untuk Korupsi

*Suprianto Haseng

 

Mendengar kata korupsi apa yang ada di benak kalian ? Bagi saya itu sudah biasa. Tidak ada yang aneh, dan tidak asing lagi bagi kita semua. Kenapa tidak? Baru-baru ini negeri kita dihebohkan dengan kasus penangkapan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Wahid Husein oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Operasi tangkap tangan ini diduga karena menerima suap untuk pemberian fasilitas mewah bagi penghuni di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. Selain itu ditemukan juga adanya lapas mewah untuk para narapidana.

Berita ini tidak membuat saya merasa miris apalagi jantung ini copot. Sudah biasa. Sudah banyak kasus-kasus korupsi yang terjadi di negeri ini yang entah sampai kapan ada kata habisnya. Hanya bisa Menanti diterapkannya hukuman mati untuk para koruptor. Menurut catatan MA, bukan hanya birokrat dan politikus saja yang terjerat masalah korupsi, tetapi juga pejabat hukum itu sendiri (seperti hakim, jaksa dan lainnya) sangat mengecewakan tidak ?

Khusus untuk kepala daerah yang terlibat korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut ada 361 kepala daerah di Indonesia yang terlibat korupsi. Sementara Kementerian Dalam Negeri mencatat ada sekitar 343 bupati/wali kota dan 18 gubernur yang tersangkut kasus korupsi. (Data tahun 2016). Sedangkan Tahun 2017 lalu, menurut catatan KPK, ada 643 pejabat yang ditangkap KPK karena kasus korupsi

Itu baru kasus korupsi pejabat yang ditangani oleh KPK saja, belum lagi lembaga hukum lain. Indonesia untuk masalah Korupsi berada diurutan kedua setelah kasus Narkoba. Dengan banyaknya kasus korupsi itu, sudah triliunan rupiah negara dirugikan. Apa penyebabnya ? efektifkah revolusi mental yang didengungkan oleh pemerintah saat ini. ? entahlah sepertinya ada yang salah.

Saya hanya merasa aneh saja kenapa orang-orang yang memiliki jabatan dan berpengaruh itu banyak tersandung dengan kasus korupsi. Ini yang membuat saya merasa aneh. Ada sesuatu yang tidak bisa kupecahkan masalahnya.Bukan karena susah tapi membingungkan dan tidak habis pikir para pejabat negara bisa melakukan demikian. Sudah tidak ada keteladanan dalam diri mereka.

Jika kita bicara masalah ekonomi, yhh tentu saja mereka para pejabat negara ini adalah orang-orang yang berkecukupan dibandingkan masyarakat di daerah pedalaman dan pelosok negeri sana yang untuk maka saja sudah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga ada yang mati kelaparan.  Kejadian Ini membuat saya merasa prihatin dengan mereka. Apakah mereka tidak merasa bersalah. ? Hanya Tuhan yang tahu

Kita bicara masalah pendidikan, sudah tentu mereka para pejabat negara ini adalah orang-orang yang berpendidikan. Buktinya mereka bisa mendapatkan jabatan dan posisi setingkat Menteri, Gubernur, Bupati/wali Kota  dan yang setingkat dengannya, Tapi anehnya lagi pendidikannya itu disalahgunakan. Mereka manfaatkan untuk hal yang tidak manusiawi. Perbuatan korupsi adalah perbuatan yang sangat tidak manusiawi bagi saya. Kenapa demikian ? Perbuatan ini bisa membuat masyarakat mati secara perlahan-lahan. Sungguh suatu penyiksaan yang luar biasa.

Kita bicara masalah sosial masyarakat, mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati dilingkungan sosial masyarakat. Dan jika bicara soal kasta, mereka inilah yang menempati status sosial tertinggi dalam masyarakat. Mereka adalah orang yang sangat berpengaruh didalamnya. Buktinya saja, jika ada tamu atau pejabat negara yang hadir di daerah,  baik itu anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu semua turut serta datang menjemput dengan sorakan gembira. Bak seorang pahlawan, yang akan memperjuangkan nasib mereka. Anehnya lagi, mereka ini tidak menghargai masyarakat yang menjemput mereka. Mereka mengkhianati masyarakat dengan melakukan perbuatan keji tidak manusiawi itu.

Pejabat-pejabat negara pelaku korup ini sudah tentu tidak memiliki shame cultureatau budaya rasa malu. Budaya rasa malulah yang seharusnya kita jaga dan junjung tinggi dalam bersosial di lingkungan masyarakat. Realitanya sekarang shame cultureitu sudah hilang dari diri mereka. Budaya malu hanya sebatas ucapan belaka. Ucapan yang tanpa ada realisasinya. Berbohong dan ingkar janji sudah menjadi hal yang lumrah. Seakan–akan tidak berdosa. Inilah yang membuat saya miris dan hati saya tersayat-sayat.

Saat ini, negara kita sudah mengalami crisis of shame atau krisis rasa malu. Krisis rasa malu dalam artian sudah hilangnya rasa malu seseorang terhadap perilaku menyimpang yang dilarang oleh agama, moral, etika, dan bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Malu dalam konteks opini ini adalah malu yang tercela, karena tidak semua perilaku malu memiliki konotasi negatif.

Indonesia adalah bangsa yang pemalu begitulah julukan banyak orang diluar sana. Sikap malu itu timbul karena Indonesia masih menganut budaya dan adat ketimuran yang cukup kental. Akan tetapi itu dulu bukanlah sekarang. Lain dulu lain sekarang. Rasa malu itu sudah hilang dan sudah tidak ada lagi tertanam dalam diri sebagai seorang pejabat yang condong melakukan praktik tindak pidana korupsi. Saya juga bingung entah kenapa budaya malu ini sudah tidak ada lagi atau memang saya yang kurang peka merasakan, saya tidak tahu.

Jika kita bandingkan dengan bangsa lain Jepang misalnya, Indonesia sepantasnya tidak layak lagi disebut sebagai bangsa yang pemalu. Di negara- negara maju lainnya, bukan hal baru jika kita melihat atau mendengar kabar berita bahwa adapemimpin yang  mengundurkan diri dari posisi dan jabatannya. Mengundurkan diri karena merasa gagal dalam melaksanakan tugasnya.

Di Jepang, kita pernah mendengar nama Yukio Hatoyama seorang perdana menteri jepang yang mengundurkan diri meskipun baru sekitar 8 bulan menjabat. Di Inggris Michael Bates seorang Menteri Negara untuk Departemen Pembangunan International. Di Korea Selatan, Menteri Ekonomi Choi Joong –Kyui turut mengundurkan diri karena hal yang cukup sepele. Begitu juga dengan Menteri ekonomi Taiwan Lee Chih – Khung.

Karena merasa gagal melaksanakan tugasnya mereka mengundurkan diri dari posisi dan jabatan yang sedang diembannya. Mereka semua mengundurkan diri diakibatkan ada perasaan malu karena telah gagal dalam melaksanakan tugas.Bagaimana dengan Indonesia ? banyak pejabat yang sangat nyaman menikmati kekuasaanya. Mereka tidak peduli apakah gagal atau berhasil, rasa malu kerana gagal tidak ada lagi.

Dengan banyaknya kasus korupsi yang menimpa para pejabat, baik itu pejabat negara maupun pegawai swasta, sudah selayaknya kita mengantisipasi dari awal. Hukuman berat tidak memberikan  efek jerah, apalagi hanya sebuah Penjara. Hukuman mati sebenarnya pantas bagi para pelaku tindak pidana korupsi. Akan tetapi, jika hal ini diterapkan akan menjadi persoalan yang panjang menuai pro dan kontra yang tidak berkesudahan. Karena pastinya akan dituding melanggar (Hak Asasi Manusia) HAM. Saya adalah orang yang setuju dengan diterapkan hukuman mati ini, karena dampak dari perilaku korupsi ini sangat luar biasa, dan sangat tidak manusiawi.

Membuat para pejabat ini memiliki rasa malu  sangatlah susah dan mustahil bisa diwujudkan  karena mereka sudah tidak memiliki rasa malu itu sendiri. Suatu pekerjaan Rumah yang akan menjadi sia-sia bagaikan mencincang air yang tak akan putus. Sebagai solusi yang saya tawarkan adalah kita harus sedini mungkin melakukan tindakan preventif atau pencegahan terhadap kasus tindak pidana korupsi ini.  Kita harus menciptakan generasi muda anti korupsi dengan cara menanamkan benih rasa malu sejak dini agar kedepan tumbuh menjadi generasi hebat yang malu untuk berbuat tindak pidana korupsi. Karena hanya dengan demikian kesadaran akan timbul dengan sendirinya. Perasaan selalu bersalah akan selalu ada jika melakukan hal yang menyimpang.

 

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment