Profil

Generasi Dan Korupsi Yang Melemahkan Negara

Generasi Dan Korupsi Yang Melemahkan Negara

Oleh : Yesi Fitriani

            Negara Indonesia adalah Negara yang luas dan merupakan Negara yang memiliki kepadatan penduduk yang semamkin hari semakin meningkat. Dengan kepadatan penduduk yang semakin meningkat maka kebutuhanpun semakin meningkat. Negara hukum yang system demokrasinya sudah berjalan cukup lama ini memiliki perubahan dari waktu kewaktu, baik dari aspek sumber daya manusianya, sumber daya alamnya maupun perkembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang semakin pesat. Dengan kepadatan penduduk yang semakin berkembang persaingan dalam dunia pemimpin dan bisnispun semakin berkembang dengan berbagai system. Indonesia yang merupakan Negara hukum masyarakatnya yang sudah tidak asing dengan salah satu kata dan sikap yang kejam dan merupakan suatu hal yang hina yakni Korupsi.  Jika mendengar kata korupsi, mungkin yang pertama kali terbenang dalam benak banyak orang adalah, mereka yang melakukan korupsi hanya yang memiliki posisi jabatan tertinggi dalam pemerintahan. Padahal, makna korupsi tidak hanya sebatas itu saja. Korupsi bisa diartikan menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

            Tak hanya pejabat dalam pemerintahan saja yang beresiko atau rentan melakukan tindakan korupsi. Namun anak-anak muda sekarang juga rentan melakukan korupsi. Contoh menyontek dikalangan pelajar? Itu salah satu tindakan korupsi dasar yang secara tidak langsung generasi bangsa ini mulai dihasut virus yang melemahkan ini (korupsi). Korupsi menjadi salah satu kejahatan luar biasa yang hingga kini masih setia bertengger menjadi musuh bangsa. Bila tidak ada perlawanan atas korupsi, mungkin bisa dibayangkan dampak buruk yang terjadi pada generasi mendatang. Belajar tidak korupsi itu tidak bisa dimulai dari semata-mata dari kepala keluarga. Tapi ini harus dimulai orangtua dari anak. Jika sang anak tak menginginkan sang ayah korupsi, tentu sang anak akan mengupayakan untuk tidak korupsi, dengan pembelajaran yang telah didapatkannya di sekolah. Bagaimanapun, paradigma korupsi itu adalah sesuatu yang akan menyengsarakan. Korupsi itu sudah mulai menjalar dalam tubuh bangsa ini. ia mengharapkan, dengan bergulirnya Program Pusat Belajar Anti Korupsi memberikan efek positif dan pemicu semangat generasi muda penerus bangsa dalam tumbuh bersama membangun kemandirian bangsa ini.

            Secara harfiah korupsi merupakan sesuatu yang busuk, jahat, dan merusak. Jika membicarakan tenatng korupsi memang akan menemukan kenyataan semacam itu karena korupsi menyangkut segi-segi moral, sifat keadaan yang busuk, jabatan karena pemberian, faktor ekonomi dan politik, sera penempatan kelurga atau golongan kedalam kedinasan di bawah kekusaan jabatnnya. Dengan demikian, secara harfiah dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas. Diantaranya ialah Korupsi, penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan sebagainya) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Kemudian  Korupsi : busuk; rusak; suka memakai barang atau uang yang dipercayaakan kepadanya; dapat disogok (melalui kekusaan untuk kepentingan pribadi). Dalam menangani kasus korupsi, yang harus disoroti adalah oknum pelaku dan hukum. Kasus korupsi dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga membawa dampak buruk pada nama instansi hingga pada pemerintah dan negara. Hukum bertujuan untuk mengatur, dan tiap badan di pemerintahan telah memiliki kewenangan hukum sesuai dengan perundangan yang ada. Namun, banyak terjadi tumpang tindih kewenangan yang diakibatkan oleh banyaknya campur tangan politik buruk yang dibawa oleh oknum perorangan maupun instansi. Untuk mencapai tujuan pembangunan nasional maka mau tidak mau korupsi harus diberantas, baik dengan cara preventif maupun represif.

             Penanganan kasus korupsi harus mampu memberikan efek jera agar tidak terulang kembali. Tidak hanya demikian, sebagai warga Indonesia kita wajib memiliki budaya malu yang tinggi agar segala tindakan yang merugikan negara seperti korupsi dapat diminimalisir. Negara kita adalah negara hukum. Semua warga negara Indonesia memiliki derajat dan perlakuan yang sama di mata hukum. Maka dalam penindakan hukum bagi pelaku korupsi haruslah tidak boleh pilih kasih, baik bagi pejabat ataupun masyarakat kecil. Diperlukan sikap jeli pemerintah dan masyarakat sebagai aktor inti penggerak demokrasi di Indonesia, terutama dalam memilih para pejabat yang akan menjadi wakil rakyat. Tidak hanya itu, semua elemen masyarakat juga berhak mengawasi dan melaporkan kepada institusi terkait jika terindikasi adanya tindak pidana korupsi. Jika ditinjau  secara harfiah korupsi adalah perilaku pejabat publik baik politikus atau politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya  teman dekatnya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Sebenarnya, secara moral, korupsi merupakan tindakan yang kurang terpuji. Hal ini dikarenakan tindakan korupsi dapat merugikan orang lain dan melanggar ajaran/ perintah agama serta dapat dipertanggung jawabkan kepada tuhan YME. Korupsi dalam pengertian hukum adalah perbuatan yang melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, sarana dan memperkaya diri sendiri, orang lain dan dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Ada beberapa Kasus  Korupsi di Indonesia. Korupsi di Indonesia telah ada pada era pra kemerdekaan atau sebelum Indonesia merdeka, pada saat itu Indonesia sudah diwarnai oleh budaya tradisi korupsi yang tiada henti karena didiorong oleh motif kekuasaan, kekayaan, dan wanita. Perilaku korup bukan hanya didominasi oleh masyarakat Indonesia saja, rupanya orang-orang Portugis, Spanyol, dan Belanda pun gemar berprilaku  korup! Harta-harta pemerintahannya pada era pasca kemerdekaan, korupsi kembali kambuh tercatat sudah dua kali dibentuk badan pemberantasan  korupsi. Sasarannya adalah perusahaan Negara serta lembaga Negara.

            Negara Indonesia yang banjir korupsi ini juga banjir generasi, maka marilah kita sebagai bagian dari generasi di era milenial ini berupaya menjadi dan mengajak rekan-rekan kita menjadi Generasi Muda Anti Korupsi. Bagaimana cara menanggulangi banjir korupsi yang  marak  terjadi di Indonesia? Meminimalisasi terjadinya kasus korupsi. Namun, sesuai dengan kapasitas saya sebagai seorang mahasiswa, Menurut  saya, hal yang sangat efektif dapat dilakukan adalah mencegah (preventif) terhadap munculnya bibit-bibit koruptor, dengan melibatkan seluruh komponen mulai dari diri sendiri, sahabat atau teman terdekat,  serta keluarga. Pun demikian tidak terlepas untuk saling mengingat antara satu samalain agar tidak melakuan hal yang melemahan ini(korupsi). Bersikap jujur, Senantiasa meningkatkan kualitas iman taqwa dengan melakukan berbagai aktifitas rutimitas ritual ataupun yang bersifat incidental, yakinlah dengan keimanan dan ketaqwaan dapat mencegah dari perbuatan yang tercela, Mengadakan berbagai kegiatan yang memicu kesadaran bahwa korupsi itu adalah perbuatan tercela yang dapat merugikan diri sendiri dan orang banyak. Hal ini dapat dilakukan dengan mengundang nara sumber yang kompeten.

            Oleh sebab itu, kita sebagai pemuda alias remaja Indonesia, Harus bangkit!!
Bukan bangkit dari tidur, tapi bangkit dari kesadaran sendiri, moral, dan Agama. Percuma saja punya agama, kalau aqidahnya tidak di pakai dalam kehidupan sehari-hari, benar bukan?. kita selaku generasi baru, harus bisa mencegah korupsi, jangan malah ikut-ikutan korupsi! Bisa kacau Negara kita ini, makakita slaku generasi  harus siap berantas para koruptor. Jika kita melihat dari aspek budaya bangsa Indonesia sendiri, salah satu budaya bangsa ini yang dapat menekan terjadinya korupsi adalah budaya gotong-royong.  Dalam rangka tercapainya Negara Indonesia yang bersih dari korupsi, setiap elemen masyarakat harus saling tolong-menolong dalam memerangi tindak korupsi yang terjadi, tidak bersikap apatis dan menggunakan hak-haknya sebagai warga negara. Selain itu, diperlukan kordinasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, organisasi keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, media massa dan seluruh komponen masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Kordinasi dapat dilakukan dengan cara membangun tekad yang sama untuk memberantas korupsi, serta menyamakan persepsi bahwa korupsi merupakan salah satu kejahatan luar biasa  yang wajib untuk diperangi.

            Demikian sidikit paparan saya terkait korupsi dan generasi bangsa ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya saya pribadi dan para pembaca nantinya. Jika ada kesalahan dalam tulisan ini saya mohon maaf karena sedang dalam tahap belajar.

 

Tentang Penulis

Yesi fitriani adalah gadis yang berasal dari kota dingin dengan negeri diatas awan yang tak lain dan tak bukan ialah Kota Takengon yang mrupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh. Lahir di Desa Mekar Indah Kecamatan Silih Nara Kabupaten Aceh Tengah, 20 February 1997. Putri pertama dari tiga bersaudara Dari pasangan Mulyadi dan Mulyani kasipen.

            Gadis ini memiliki motto “Man Jadda Wajada, pantang menyerah, yakin usaha sampai(yakusa)” dalam hidupnya, yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Maka dari itu sekarang pun ia sangat bersungguh-sungguh dalam belajar untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang penulis dan motivator serta pengusaha.

            Sejak kecil yesi terbiasa hidup dilingkungan yang sederhana yang membuatnya ingin membantu orangtuanya dan ingin menjadi santri untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama, ketika naik kelas dua MTS dia ikut mondok di Pesantren Quba yakni salah satu dayah di kotanya. Kemudian ketika MAN dia mondok di Dayah Ruhul Amal di Aceh Tengah. Setelah lulus dia pulang lagi ke rumahnya dan melanjutkan pendidikan di salah satu universitas dikotanya yakni Universitas Gajah Putih Takengon hingga saat ini.

            Tahun 2014 lalu, dia berhasil menjuarai lomba kaligrafi di kecamatan dan berbagai prestasi disekolahpun banyak yang diraih. Diantaranya lomba cipta puisi, pidato, tahfiz, tilawatil Qur’an dan berbagai prestasi lainnya.

Ibunya wafat saat ia menduduki bangku kelas dua saat menjalani pendidikan di MAN. Saat ini selain sebagai mahasiswa dia bekerja sambil kuliah, dengan berbagai pekerjaan yang ia jalani dari awal kuliah. Selin itu ia juga aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, diantaranya sebagai Kader dan Pengurus yang saat ini menjabat sebagai KABID DIKLAT KOHATI pada organisasi HMI, Ketua SPMA Aceh Tengah, Pengurus BEM FISIPOL Di Universitasnya, Anggota dan pengurus HPI(himpunan Pramuniwisata Indonesia) di Aceh Tengah beberapa Organisasi lainnya. Ia juga aktif dalam kegiatan di masyarakat baik dalam bidang pendidikan maupun social.