Anti Korupsi

Mengubur Ironi dan Membangun Generasi Antikorupsi

Mengubur Ironi dan Membangun Generasi Antikorupsi

Oleh: Asmaul Husna

Kenapa orang Indonesia selalu mempromosikan batik dan reog? Kenapa korupsi tidak? Padahal korupsilah budaya kita paling mahal.” Saya tercekat mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu budayawan Indonesia, Sujiwo Tejo. Sindiran satir tersebut cukup menampar kita bahwa diakui atau tidak, potret korupsi di negeri ini seolah sudah menjadi budaya. Diwariskan turun-temurun dari kursi 1 hingga ke-101. Dianggap seperti batik dan saman yang harus dilestarikan.

Pernyataan Sujiwo tersebut tentu bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia menempati urutan 96 dari 180 negara dengan indeks persepsi korupsi (IPK) berada di angka  37 (Kompas, 03/05/2018). Angka tersebut masih jauh berada di bawah Malaysia yang mencapai IPK 50. Perbandingan angka yang cukup membuat nelangsa. Serumpun, tapi tak senada.

Generasi, Korupsi, dan Ironi

Ketika bicara menciptakan generasi antikorupsi, maka yang lebih dulu harus difokuskan adalah bagaimana membentuknya. Apa yang akan diwariskan sebagai sumbangsih untuk membentuk generasi muda yang antikorupsi? Sikap dan teladan bagaimana yang dicontohkan? Di tengah gempuran kasus korupsi yang dilakukan pejabat, ke mana anak muda harus berkiblat sikap?

Untuk menciptakan generasi antikorupsi, maka salah satu elemen penting yang perlu diperhatikan adalah keteladanan. Bagaimana sikap dan perilaku yang dicontohkan oleh orang-orang yang sudah dewasa dan bijaksana? Sudahkah berada pada trah yang benar? Mengapa keteladanan ini penting? Karena membentuk generasi antikorupsi tentu saja tidak cukup hanya dengan teori-teori di buku dan media tentang larangan dan dampak buruk korupsi, tapi membutuhkan contoh dan komitmen dari para senior.

Anak muda membutuhkan role model, bukan teori yang dibuat oleh pembuat kebijakan lalu dilanggar oleh si pembuat kebijakan itu sendiri.  Seorang ayah melarang anaknya merokok karena itu tidak baik bagi kesehatan. Namun di saat bersamaan, sang ayah justru merokok di depannya. Jika rokok tidak baik bagi kesehatan anak, apakah rokok baik bagi kesehatan seorang ayah? Jika begini keadaannya, rasanya tidak elok jika berharap banyak anak akan mengindahkan nasihat orang tuanya. Nasihat menjadi sulit diterima jika yang memberi nasihat sendiri masih melanggar pada apa yang dinasihatkan. Obat kurap tidak akan laku jika penjualnya masih penuh kudisan.

Begitu juga tentang membentuk generasi  antikoruspi. Anak muda membutuhkan figur yang bersih dari korupsi. Namun hari ini kelompok ini kehilangan teladan. Saban hari berita korupsi diantar oleh surat kabar dan televisi. Para pejabat daerah dan mereka yang duduk di kursi vital perusahaan dan instansi pemerintahan harus berakhir di kursi pesakitan KPK. Tidak hanya itu, bahkan tokoh-tokoh nasional yang sebelumnya dikagumi anak muda karena lantang meneriakkan antikorupsi juga tidak luput dari badai tersebut. Yang lebih mengerikan lagi, bahkan sebagian yang melakukan korupsi itu adalah ayah mereka sendiri.

Inilah ironi yang terjadi. Anak-anak dilarang merokok dan mencuri, tapi setiap hari mereka mengajarkan itu di televisi. Sama ketika seluruh majalah perempuan mengatakan bahwa kecantikan itu berasal dari dalam dan tetaplah menjadi diri sendiri. Namun disaat bersamaan, mereka mengiklankan obat pemutih, peninggi dan pelangsing badan, atau pun krim anti keriput. “Cantiklah dengan mengikuti standar kami.”

Jika para orang tua dan pemimpin tidak lagi bisa menjadi contoh, maka kesalahan tidak seutuhnya berada di generasi muda. Mereka jadi sulit membedakan mana yang benar, mana yang salah. Orang-orang yang selama ini mereka lihat menggaungkan teriakan antikorupsi nyatanya juga melakukan hal yang sama. Generasi muda seperti kehilangan pegangan.

Keadaan tersebut kemudian menjadi semakin sulit. Hari ini, jentik-jentik korupsi sering dibalut dengan istilah yang lebih halus, yaitu sekadar uang terima kasih, uang kopi, peng rukok (uang rokok), ataupun bantu syedara (bantu saudara). Budaya inilah yang perlu kita luruskan. Generasi muda dibuat bingung dan gagal paham. Namun sayang, alih-alih dianggap perilaku koruptif, jentik ini malah bukan dianggap sebuah kesalahan, tapi kerap dilihat sebagai suatu hal yang biasa atau dinilai balas jasa dan bantu sesama.

Pendidikan antikorupsi

Jika generasi muda krisis keteladanan, maka inilah yang terlebih dulu harus diperhatikan. Anak muda harus mendapat pendidikan dan keteladanan sebelum sesat pikir dan sesat jalan. Seperti yang disampaikan oleh Najwa Shihab bahwa dalam kondisi darurat korupsi, pejabat negara tetap mencuri silih berganti. Sebanyak koruptor masuk penjara, sebanyak itu pula regenerasinya menggarong negara.

Selain keteladanan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendidikan antikorupsi bagi generasi muda. Hal itu bisa dilakukan dengan memasukkan pendidikan tersebut dalam kurikulum pendidikan, baik di bangku sekolah ataupun perguruan tinggi. Generasi muda perlu diberi pemahaman sejak dini bahwa korupsi adalah sebuah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dan merenggut hak banyak orang.

Selama ini generasi muda terlalu digempur dengan ilmu matematika, kimia, teori Darwin, dan ilmu sains lainnya. Tidak cukup dengan sistem full day yang diterapkan di sekolah, anak-anak juga dikirim ke berbagai lembaga pendidikan nonformal untuk mendapat les privat. Hal tersebut membuat kita lupa bahwa pendidikan karakter dan moral adalah hal utama untuk membangun jiwa generasi bangsa.

Selain itu, pendidikan antikorupsi juga tidak hanya cukup diberikan di  lembaga pendidikan formal, tapi juga harus didapatkan dari lembaga pendidikan agama. Hal ini menjadi penting karena kecerdasan intelektual tidak cukup menjadi tameng untuk tidak melakukan korupsi. Nyatanya para koruptor hari ini adalah mereka yang bergelar sarjana hingga profesor. Maka kecerdasan spiritual menjadi sebuah upaya preventif yang penting diberikan agar bisa menjadi benteng pertahanan dari perilaku koruptif. Maka keliru jika berpikir pesantren adalah rahim lahirnya teroris, karena di tempat itulah pendidikan moral diberikan.

Generasi muda tidak hanya cukup dibangun raganya, tapi juga jiwanya sebelum mengidap penyakit kronis yang menjegal hak orang lain. Hal ini perlu dibangun sejak dini karena jika hati sudah karatan, penyakit ini sukar disembuhkan. Nilai-nilai kejujuran harus ditanamkan sejak awal di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan desa, hingga tokoh masyarakat dan pejabat setempat yang sedikit banyak akan menjadi role model dalam bersikap.

Nilai kejujuran berdampak positif pada banyak hal dan lingkungan sangat berpengaruh untuk membentuknya. Desa Eibenthal di Rumania dan Kota Quebec di Kanada adalah contoh bagaimana nilai kejujuran dan tidak mengambil milik orang lain dipraktikkan dalam pendidikan nonformal di tengah masyarakat. Dua desa tersebut adalah daerah yang memiliki predikat bebas pencurian dalam bentuk apapun. Pintu rumah dibiarkan begitu saja tanpa dikunci. Pemiliknya bisa pergi bekerja dengan tenang hati tanpa harus khawatir rumahnya digodol maling. Nilai-nilai seperti inilah yang perlu dibangun. Selama bukan milik sendiri, maka tidak ada alasan untuk mengambilnya. Walau sebesar apapun kesempatan terbuka di depan mata. Karena kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang makan bakwan dua, tapi bayar satu.

Pendidikan tidak hanya cukup memberi asupan bagi otak, tapi juga harus bisa membangun jiwa, mewariskan budaya, dan membangun peradaban. Penjara adalah alternatif terakhir. Yang perlu dilakukan adalah upaya mencegah (preventif) perilaku koruptif sebelum terlanjur menggerogoti. Generasi muda harus dididik dengan nilai kejujuran dan kepedulian, bukan dikenal sebagai generasi tiktok dan mobile legend. Anak muda juga perlu dididik bekerja keras agar tidak menganut paham “budaya formalin” yang ingin mendapatkan kekayaan dan sukses dengan cara cepat dan instan serta bisa diawetkan.

Terlepas dari itu semua, membentuk generasi antikorupsi adalah tanggung jawab semua anak bangsa. Jangan biarkan anak muda melihat kasus korupsi seperti menonton infotaiment yang dianggap lucu dan menghibur karena melihat para koruptor yang menyunat miliaran hingga triliunan uang negara ternyata hanya pura-pura penjara. Karena sungguh menyakitkan jika suatu saat nanti generasi muda tidak lagi mengenang nenek moyangnya sebagai orang pelaut,” tapi seorang koruptor. Lirik tersebut lalu dinyanyikan satir oleh anak-anak: “Nenek moyangku orang koruptor. Titel sarjana hingga profesor. Pakaiannya bersih, hatinya kotor. Negeri ini terasa horor.”

Semoga tidak!  

Asmaul Husna, Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe .

Profil Penulis

Asmaul Husna, dara kelahiran Aceh Utara adalah seorang penulis muda dari Aceh. Puluhan tulisannya sudah diterbitkan di media cetak lokal Aceh, Serambi Indonesia. Ia kerap menulis artikel dengan tema politik, sosial-budaya, dan lingkungan. Beberapa tulisannya juga sudah ikut dibukukan, seperti “Bunga Rampai Demokrasi” dan “Parnas Vs Parlok”. Karena ketertarikannya pada dunia penulisan, pada awal tahun 2015, Asma (panggilan akrabnya) mendirikan sebuah komunitas menulis yang bernama “Panteu Menulis Pasee.” Karena konsistensinya di dunia penulisan itulah, pada tahun 2015, Asma memperoleh penghargaan “Saidina Award” dari Tanda Seru Consulting sebagai penulis muda produktif dan inspiratif.

Tidak hanya itu, selain memenangkan berbagai kompetisi menulis, Asma juga aktif dan  lolos seleksi untuk mengikuti berbagai program kepemudaan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Selain Panteu Menulis Pasee, Asma juga aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe) yang dibentuk oleh Redaktur Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika. Asma dipercayakan untuk menjadi Koordinator FAMe Chapter Lhokseumawe.

Selain menulis, Asma juga aktif di kegiatan sosial di tempatnya. Ia tergabung sebagai relawan di gerakan sosial “Cet Langet Rumoh,” yaitu sebuah gerakan untuk membangun rumah bagi kaum dhuafa di Aceh dari sumbangan jamaah facebook. Tidak hanya rumah, gerakan tersebut secara aktif juga menyalurkan bantuan modal bagi masyarakat kecil yang ingin berjualan namun kekurangan modal, zakat, hingga pembangunan sekolah tak layak di wilayah pedalaman Aceh. Saat ini Asma baru saja menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU).

 

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment