Anti Korupsi

Tips-Tips Membangun Generasi Anti Korupsi

Tips-Tips Membangun Generasi Anti Korupsi

  • penulis, Ahmad Fauzan

Korupsi sudah ada sejak awal masa pemerintahan indonesia, namun hingga pada awal tahun 2000-an kata korupsi masih sangat jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat, mengingat saat itu masih minim teknologi dan informasi di masyarakat. Tindak pidana korupsi mulai memiliki tempatnya pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu dengan adanya pembangunan lembanga anti korupsi atau KPK. Sejak saat itulah mulai banyak penegakan terhadap pelaku tidak pidana korupsi baik itu yang dilakukan kaum elit politik hingga karyawan denga gaji yang rendah.

Hingga saat ini praktisi tindakan korupsi masih terus terjadi, entah dari kaum elit yang sangat sulit untuk dikuak, hingga pemerintah daerah atau bahkan aparatur desa, tidak perlu dianggap aneh lagi, semua proyek pengerjaan ataupun pembangunan akan lebih sering mangkrak bila tidak ada pelumasnya.

Semua orang akan lebih memilih makan gartis daripada bayar sendiri, hal seperti ini sudah biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, entah itu dari kalangan siswa atau lansia. Memilih dibayar bukan dengan uang sakunya sendiri membuat semua orangterbiasa senang bisa memiliki sesuatau dengan mudah tanpa merogoh kantongnya, bahkan tidak sedikit yang berpikiran juga harus bisa menambah isi dompetnya.

Sampai saat ini, Indonesia sedang dalam keadaan darurat korupsi, semua aparatur negara seperti tidak dapat dipercaya kejujurannya, entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi memang kenyataanya mengatakan “anda punya uang anda menang”.

Kepercayaan masyarakat pada pemerintah masih sangat tinggi dibanding negara-negara lain. Amerika contohnya, Amerika yang notabene adalah negara adidaya, kepercayaan masyarakatnya pada pemerintah sangat rendah bila dibanding dengan Indonesia. Sepatutnya Indonesia mempertahankan itu, karena selama rayat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pemerintah, maka kesatuan di negeri ini bisa tetap terjaga. Namun bila pemerintah masih tetap saja “lelet” menanggapi tindak pidana dan pembiaran tehadap korupsi terus menerus terjadi, rakyat kemungkinan besar tidak peduli dengan keadaan negeri, yang bisa menyebabkan rentannya keamanan dan kesatuan negara.

Selain pihak berwenang, masyarakat juga harus andil dalam pengakan korupsi, baik itu di lingkungan desa, sekolah ataupun kantor. Suara rakyat adalah suara sang penguasa sebenarnya, tapi apa? Saat ini rakyat banyak yang terbungkam, tertutup lembar-lembar merah rupiah. Sejatinya bila masyarakat sensitif dalam menanggapi korupsi, maka masyarakat akan sepenuhnya membantu menjaga keutuhan negeri ini dengan sebenar-benarnya.

Pemerintah/lembaga anti korupsi dan masyarakat tidak boleh hanya berfokus pada kasus-kasus korupsi yang saat ini masih genting. Rakyat dan lembaga ini juga harus mendidik generasi penerus menjadi generasi anti korupsi, agar rantai korupsi di negeri ini benar-benar terputus. pentingnya memotong rantai pengaruh buruk juga harus benar-benar diperhatikan, yaitu mendidik generasi muda dengan membudayakan diri menjadi pemuda yang anti korupsi.

Bila hal ini tidak diperhatikan, maka generasi pemuda tetap saja akan meneruskan kiprah buruk para tetua dengan trik-trik yang lebih sulit. Sehingga koruptor di negeri ini tidak akan pernah habis dan kemajuan negara inipun tidak bisa lagi diusahakan.

Oleh karena itu, pemerintah dan rakyat setidaknya menerapakan beberapa hal dibawah ini kepada generasi penerus agar karakter generasi penerus bangsa ini bisa merubah kebiasaan korupsi di Indonesia yang seperti sudah mendarah daging.

Pertama, Berani Menegur

Orang yang sudah menginjak kepala dua, sudah dapat membedakan baik buruknya pendidikan yang telah dijalaninya, entah itu pendidikan formal atau informal. Menurut saya, pendidikan informal lebih condong membangun karakter banyak siswa dan generasi muda, baik itu karakter sosial, politik dan agama.

Dalam kehidupan informal, setiap orang dituntut untuk menjadi dirinya sendiri yang kemudian sengaja atau tidak akan meniru sosok yang dianggapnya “keren”, saat itulah karakter setiap orang akan tercipta.

Kata korupsi yang sudah menjadi makanan sehari-hari, bukan lagi menjadi ketabuan bila seseorang melihat tidakan tidak benar ini. Terlebih lagi banyak yang membiarkan atau mengabaikan tindak korupsi atas dasar alasan karena “enggak enak” menegur, bukan urusan saya dan banyak lagi.

Padahal, bila ada satu orang saja yang mau bertindak tegas dalam hal ini dan mau memberi pengaruh baiknya kepada generasi muda, maka akan ada banyak orang lain juga yang berani meniru, bahkan akan menjadi panutan para generasi muda, sehingga dapat membangkitkan mental mereka yang  sejauh ini terbilang takut, saya yakin itu. Para siswa memang memiliki mental besar saat ikut tawuran, tapi mereka akan  membeku saat melihat tindak korupsi ini.

Kedua, Membudayakan Malu

Malu adalah salah satu ungkapan rasa bersalah saat  melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan.Serendah rendahnya manusia adalah manusia yang tidak pernah mau disalahkan dan tidak introspeksi diri. Penerapan rasa malu sangatlah penting dalam dunia pendidikan, ketika seorang siswa bisa memiliki rasa malu saat dihukum atau bersalah, maka disaat itulah siswa akan menjadi jiwa yang besar, memperbaiki diri dan enggan melakukan kejahatan.

Uang adalah barang yang menggiurkan, semua manusia butuh uang. Uang mengalahkan segalanya, tidak sedikit manusia menjual agamanya demi uang, bahkan harga diripun bisa dijualnya. Namun bila rasa malu masih kuat tertancap dalam nurani, semua orang akan rela menjadi semiskin-miskinnya manusia ketimbang memiliki hidup yang jelas salahnya.

Penerapan budaya malu sudah sangat lama ada di negara Jepang dan Korea Utara bahkan bisa dibilang malu adalah salah satu budaya bagi mereka. Mereka yang ketahuan melakukan tindak korupsi akan merasa menjadi manusia yang lebih rendah dari sebuah sampah.

Ketiga, Memberi Pemahaman

Korupsi tidak ada bedanya dengan pencuri, tapi entah mengapa koruptor lebih terpandang dari seorang maling, bahkan semua orang lebih jijik pada maling timbang seorang koruptor. Pemahaman seperti inilah yang salah, koruptor adalah maling yang kapasitas curiannya jauh, sangat jauh dari seorang pencuri ayam. Tapi kenapa koruptor masih saja dihormati?

Hal seperti diataslah yang menjadikan salahnya penilaian masyarakat. Buruknya pemahaman tentang korupsi membuat mereka tidak bisa memberi penilaian yang seharusnya kepada orang lain. Bayangkan, bila mulai hari ini setiap pemuda bangsa “paham” bagaimana korusi itu dan bagaimana seharusnya koruptor ini diperlakukan, kemungkinan besar beberapa tahun lagi tindak korupsi bisa berkurang drastis.

Keempat, Menakut-nakuti(Memberi Efek Jera/Trauma)

Jepang(Harakiri) dan Cina merupakan negara yang terkenal memiliki peraturan yang tegas dalam penindakan terhadap koruptor, hukuman bagi seorang koruptor di dua negara ini adalah hukuman mati. Bahkan di dua negara ini korupsi adalah tindakan kriminal yang tidak lagi bisa dimaafkan.

Selain itu ada juga negara lain yang menerapkan hukuman yang kejam. Korea Utara. disamping negara ini adalah negara yang “tertutup”, penegakan hukum negara sangat tegas. Koruptor di negara ini dihukum mati. Jang Song-Thaek, paman Kim Jong-un ini dihukum mati. Setelah tewas ditembak, potongan daging Jang Song-Thaek dijadikan makanan anjing kelaparan dan dipertontonkan di depan seluruh pejabat negara.(hipwee.com)

Arab Saudi. Negara ini menerapkan hukum syariat islam, koruptor sama halnya dengan mencuri bahkan skalanya dianggap jauh lebih besar, disana para koruptor akan dihukumi dengan Qisash atau hukum pancung.(hipwee.com)

Sedikit diambil perbandingan dengan Indonesia. Negeri ini tidak menerapkan hukuman yang berat, bahkan koruptor bisa melenggang kesana kemari dalam masa hukumannnya, Gayus Tambunan contohnya. Bukankah itu menyenangkan bila hidup sebagai koruptor di negeri ini? “Bapak ada uang, bapak bisa bersenang-senang”.

Andai saja hukuman berat mulai diterapkan di Indonesia. Yang bisa memberi efek jera kepada para pelaku atau para penonton yang menyaksikannya, serta merta para generasi penerus pasti enggan berurusan dengan hal ini.

Beberapa hal diatas saya fikir cukup untuk membangun mental generasi muda tanpa korupsi. Pembangunan karakter, mental serta pendirian/ketegasan, mendorong setiap insan untuk mengikuti nuraninya, karena benar adanya kalau kata hati selalu mengatakan hal baik. Bayangkan saja bila para generasi muda sudah memiliki beberapa hal diatas, maka karakter generasi muda di negeri ini akan menjadi generasi yang anti korupsi, dan rantai korupsi di negeri ini akan terputus.

Penulis : Ahmad Fauzan

Profile : Petani Kopi Gayo muda yang senang menulis

Akun Facebook : https://web.facebook.com/fauzan.uzaen?ref=bookmarks

 

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment