Anti Korupsi Profil

Generasi Suci Anti Korupsi

Generasi Suci Anti Korupsi

Rauzatul Jannah

Korupsi adalah penyakit berbahaya, setiap kali ada yang masuk jeruji, pasti ada generasi penganti. Menurut KBBI sendiri korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk keuntungan pribadi, dimana akan muncul sebuah kata “mengorupsi” yang bearti menyelewengkan atau menggelapkan uang dan sebagainya. Korupsi sering melibatkan para pelaku kejahatan ekonomi kelas atas (high level economic). Bahkan, untuk tahun 2018 KPK sudah mengantongi sepuluh kepala daerah yang terlibat dalam korupsi. Ini menunjukkan, betapa buruknya sikap seorang pemimpin negara kita tercinta, dan bagaimana caranya agar generasi bangsa bisa terbebas dari korupsi, jika yang dilihatnya setiap hari adalah penangkapan pemimpin? Jawabannya tentu saja diri sendiri, bagaimana kita mengelola diri kita, bagaimana kita membentuk lingkungan yang baik, dan bagaimana cara orang sekeliling kita menanamkan betapa bahayanya korupsi.

Indonesia seharusnya lebih mengutamakan budi pekerti, dimana anak-anak diajarkan etika sebelum matematika, seperti di Negeri Sakura, Jepang. Dikutip dari Halo Jepang edisi Juli 2017, Murni Ramli, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta mengatakan, “Pendidikan moral disampaikan di dalam bentuk hidden curriculum atau kurikulum yang tersembunyi. Bimbingan soal perilaku sosial yang baik telah diberikan oleh wali kelas.”

“Bentuknya pun dapat bermacam-macam bisa berupa diskusi terkait ataupun sebuah wacana dengan cara yang sesuai dengan usia murid sekolah dasar” tambahnya. Ini yang seharusnya ditanamkan kepada anak-anak Indonesia, Seto Mulyadi pernah mengatakan “Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Bung Hatta juga pernah memperingatkan, “Indonesia jangan jadi  negara kekuasaan. Indonesia harus jadi negara pengurus, agar tak ada rakyat yang lapar tak terurus. Pemerintah harus sibuk melayani rakyat, bukan berpihak pada konglomerat. Pejabat wajib dekat dengan warga, bukan giat memupuk harta.” Generasi bangsa harus berpedoman kesini, sehingga bisa memacu semangat agar bisa menciptakan Indonesia tanpa korupsi, sehingga generasi bangsa dapat menjadi Hatta-Hatta yang lain, yang bersih dan bersahaja.

Sebagai generasi bangsa, kita punya beban yang besar, jangan mau jadi penonton, tapi harus jadi pemimpin. Pemimpin yang suci tanpa korupsi, seperti kata Najwa Shihab, “Jika para pejabat  bisa di usap, Indonesia masih bisa berharap. Mereka yang hidupnya bersih, pasti tak takut jadi orang yang tersisih. Harta dan penghasilan pribadi, mereka publikasi tanpa ditutup-tutupi. Dengan jurus transparasi, mereka hadang gerak-gerik para pencuri. Jika atasan berani buka-bukaan, anak buah akan sulit selewengkan jabatan. Kita rindu pejabat penuh tauladan, yang meminpin bukan demi kekayaan. Di pundak pemimpin yang bebas korupsi, disitulah masa depan negri ini”.

Sebagai generasi pemimpin kita perlu memahami dan mengenal bentuk-bentuk tindakan korupsi, sehingga dalam menjalani kehidupan bermasyarakat kita bisa menghindarinya bahkan menegur apabila ada masyarakat lain yang kita jumpai.

Menurut beberapa pihak, ada sebab-musabab kenapa korupsi bisa terjadi, antara lain: 1) Sifat tamak/serakah, dimana ia selalu ingin beroleh banyak untuk dirinya sendiri, 2) Mental korupsi, ia tidak takut apapun, karena yang ia lihat hanya kesenangan, sehingga mental untuk korupsi itu sangat kuat, gelap mata, 3) Penghasilan yang tidak cukup, 4) Gaya hidup yang konsumtif, dimana mereka berlomba-lomba menaiikkan taraf hidupnya, tanpa peduli rakyat yang kelaparan diujung sana, 5) Ajaran agama yang tidak diterapkan dengan baik, kurangnya ilmu agama adalah penyebab terbesar kenapa mereka bisa melakukan tindak korupsi, 6) Peraturan monolistik atau tumpang tindih sebuah peraturan yang mengatur suatu masalah, 7) Gagal paham akan perbuatan melawan hukum.

Saat kedok mereka tertangkap basah, alasan klasik selalu saja keluar dari mulut manisnya, “saya khilaf”. Sungguh, jika tidak ada satupun yang mampu untuk tegas, jangan harap negri akan bebas.

Beberapa sikap yang seharusnya ada pada diri kita sebagai generasi penerus, sehingga bisa menjadi suri tauladan, yakni, 1) Jujur, jadikan sikap jujur sebagai pondasi awal untuk penegakan integritas diri kita, 2) Peduli, sikap peduli kepada sesama menjadikan kita memiliki sifat kasih sayang, pribadi yang berjiwa sosial, sehingga kita akan memperhatikan lingkungan sekeliling kita, dimana masih banyak kekurangan serta orang yang kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan kita, kalau kita punya jiwa sosial yang tinggi, kita tidak akan tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar, 3) Mandiri, kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri kita untuk tidak tergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian yang kita miliki memungkinkan kita untuk mengobtimalkan daya pikir guna bekerja secara efektif, saat kita memiliki pribadi yang mandiri, kita tidak akan bekerjasama dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi keuntungan sesaat, 4) Disiplin, ketekunan dan konsistensi untuk mengembangkan potensi akan selalu mampu memberdayakan diri dalam menjalani tugas, 5) Tanggungjawab, sebuah kesempatan besar saat kita dipercaya untuk memimpin, dan seharusnya kita bisa bertanggungjawab atas apa yang kita dapat, 6) Kerja keras, pribadi yang punya etos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang besar, 7) Sederhana, menyadari kebutuhan kita dan berupaya memenuhi kebutuhan dengan wajar, tidak berlebihan, 8) Berani, berani menyatakan kebenaran, tidak menerima sikap penyimpangan dan beani penyangkal tegas untuk sebuah penyimpangan, dan 9) adil, bersikap adil dan setara kepada semuanya.

Kebiasaan dan sikap yang baik pasti akan melahirkan generasi yang baik, sehingga perubahan akan terjadi. Jadi tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin saja jika ada kemauan besar, dan kerjasama. Sebagai generasi anti korupsi, kita harus ciptakan sikap yang tegas, sehingga para koruptor takluk akan perubahan yang besar yang akan terjadi kedepan. Majulah dan pantang mundur, suarakan hal-hal yang benar, jangan takut pada apapun, yakinlah Tuhan bersamamu. Jangan pernah menganggap sebuah hal misteri jika belum terjadi, tugasmu mewujudkan, wujudkan dan katakan pada dunia, “I know I can”.

Saat negerimu dijajah dengan sikap

Hadapi dengan sigap

Belajarlah berharap

Supaya negerimu bisa lengkap

Bangun jiwa muda

Untuk generasi bangsa

Lawanlah kekejaman

Dengan sigap tangan

Tentang penulis

Rauzatul Jannah, penyair dari desa, dan melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Jurusan Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) dengan bantuan BIDIKMISI, dan aktif sebagai wartawan kampus (Pers Alkalam).