Anti Korupsi

Merubah Kepintaran Menjadi Kebaikan Anti Korupsi

Merubah Kepintaran Menjadi Kebaikan Anti Korupsi

*Syahir

Korupsi itu hal biasa, dari banyaknya para kepala daerah, anggota dewan, pejabat, pegawai negeri, serta pengusaha yang tertangkap hampir setiap hari. Berita mengenai penangkapan yang diduga terindikasi korupsi dan atau sogokan menjadi berita langganan di semua media. Berita mengenai korupsi tidak lagi menjadi sesuatu yang terlalu diperhatikan dan menarik untuk dibaca. Sehingga sikap menjadi acuh terhadap perilaku koruptif, dan pesimis akan dapat dituntaskan oleh pihak yang berwajib.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih tidak dilahirkan menjadi koruptor. Dalam perjalanan hidup akan membentuk perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Factor lingkungan dan social akan sangat berperan untuk membentuk pribadi seseorang. Hanya saja bagaimana kita bisa memilah dan memilih antara kebiasaan dan kebenaran. Ada proses yang akan dilalui oleh seseorang dalam masa pembentukan karakter yang akan mengarahkan seseorang menjadi rakus dan tamak.

Dalam bahasa Inggris, korupsi (corruption) berasal dari kata corrupt, yang artinya jahat, buruk, dan rusak. Menurut Bank Dunia, korupsi adalah “penyalahgunaan wewenang publik untuk memperoleh keuntungan pribadi (the abuse of public office for private gain). Menurut UU No. 20 Tahun 2001 disebutkan bahwa korupsi adalah “Tindakan melanggar hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Korupsi merupakan gabungan antara keinginan, ketamakan, ketidakberimanan seseorang berkumpul menjadi nafsu yang tidak bias dibendung, sehingga menggunakan kesempatan dari kekuasaan untuk memenuhi panggilan setan demi mencapai apa yang diinginkan.

Membangun generasi muda yang anti korupsi dan dapat menghindari perilaku koruptif sangat diperlukan untuk memutus rantai kehidupan korupsi. Ada beberapa langkah yang harus diterapkan untuk melahirkan  generasi anti korupsi. Pertama pendidikan agama, jika dilihat dari kacamata islam ;

“dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. ( Al- Baqarah : 188)

Dari ayat di atas jelas bisa diambil kesimpulan bahwa mengambil yang bukan bagian dari kita merupakan larangan dan harus ditinggalkan. Penguatan iman yang dimulai terus menerus melalui lembaga pendidikan agama, melalui pengawasan dari orang tua dan guru akan melahirkan perwujudan iman melalui tingkah laku. Memalui pendidikan agama tidak hanya membuat orang menjadi pintar, tetapi meluruskan orang dengan kepintarannya.

Kedua penguatan moral dan karakter, moral merupakan produk gabungan dari agama dan budaya. Setelah agama kuat serta iman yang tidak mudah tergoyahkan, moral merupakan unsur yang sangat penting agar terhindar dari korupsi. Tingkat pendidikan saja tidak bisa menjamin akan menjadi orang yang bermoral, atau justru sebaliknya ilmu yang didapatkan akan mengarahkan menjadi orang yang tidak bermoral sama sekali jika dengan ilmu untuk menyiasati demi memperoleh kepentingan pribadi. Moral serta membentuk karakter dalam masa pendidkan sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang utuh ketika terjun ke masyarakat.

Ketiga, melatih kejujuran untuk berani merubah hal buruk yang dianggap baik. Contohnya seorang mahasiswa/i ketika akan mengikuti ujian tidak melakukan pendekatan terhadap dosen dengan memberikan bingkisan atau meminta secara personal supaya mendapat nilai bagus. Proses untuk membiasakan kejujuran akan dapat berjalan dengan lancar jika keadaan sekitar tidak dipaksa atau ketidakjujuran dianggap hal biasa. Dalam dunia pendidikanpun tidak luput dari praktek korupsi. Contoh kecil ketika hendak mendaftar masuk ke suatu perguruan tinggi, standar kelulusan tidak selamanya hanya dilihat dari kemampuan tetapi juga lobi yang membutuhkan uang untuk meluluskan seorang mahasiswa/i. Jika ketidakjujuran ini sudah dimulai dari proses untuk mendapatkan pendidikan, bagaimana proses pendidikan itu sendiri, atau setelah dia lulus dan menjadi seseorang yang punya kekuasaan.

Selain ketiga hal di atas sosialisasi penting untuk mengedukasi masyarakat supaya mengetahui yang dikategorikan sebagai korupsi. Karena dalam kehidupan sehari – hari praktik korupsi terjadi di berbagai lini kehidupan, mulai untuk mendapat pekerjaan, pengurusan KTP dan surat kependudukan lainnya, pengurusan izin, hingga jual beli suara untuk memperoleh kekuasaan. Di samping membangun generasi yang anti korupsi, ada system yang harus dibenahi untuk mencegah terjadinya praktik haram tersebut.

Pemerintah serta semua pemangku kepentingan harus mampu melahirkan lapangan pekerjaan untuk generasi sekarang. Dengan mengedepankan kemampuan bukan keuangan untuk mendapat akses lapangan kerja, sehingga generasi yang baru sadar akan kebutuhan dan tuntutan kehidupan tidak dihadapkan dengan transaksi untuk memperoleh pekerjaan. Jika mereka para generasi yang baru turun ke masyarakat setelah menempuh pendidikan formal langsung ditawarkan untuk “membeli” pekerjaan, bagaimana mental yang akan terbangun pada saat dia akan mengemban tugas dan kewajiban. Tentu akan ada istilah “cok pulang ata awai” untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan.

Generasi muda perlu sadar akan pentingnya pendidikan dan organisasi untuk membentuk jiwa kepemimpinan. Generasi sekarang harus menjadi orang yang optimis terhadap cita-cita besar dan mempunyai mimpi besar seperti yang telah dilakukan oleh ara pendahulu kita semua. Kita semua para generasi muda harus melek terhadap perkembangan teknologi dan informasi untuk membuka pikiran yang telah lama kaku dan pesimis.

Mengikuti arus memang perlu agar tidak terbentur dengan nilai sosial yang sudah terbangun dalam masyarakat, tentu dalam hal baik dan benar. Namun ada arus yang harus kita lawan yaitu pemikiran terhadap yang sudah dianggap benar seperti praktik korupsi itu sendiri.  Terkadang yang mengenalkan korupsi bukanlah orang lain tetapi orang tua, saudara, dan teman kita sendiri. Biasanya pada saat masuk suatu jenjang pendidikan dan untuk memperoleh pekerjaan, sehingga hal seperti ini akan menjadi pembenaran untuk melakukan suap menyuap dengan dalih “peng” yang diberikan adalah rasa terima kasih yang sebenarnya dipaksa untuk diberikan.

Membentuk sikap yang nasionalis dari muda dengan mengetahui dan mempelajari akan agungnya sejarah panjang yang telah diperjuangkan oleh endatu kita. Sekarang bukanlah masa dimana kita harus memperjuangkan tanah kelahiran dari tanga penjajah. Tetapi hari ini adalah warisan para “syuhada” yang telah meninggalkan tanah, air, gas dan berbagai sumber daya alam yang melimpah untuk bias dinikmati oleh seluruh rakyat. Dengan kemudahan yang diwarisi para pendahulu kita jangan sampai terlena, lupa, sehingga dalam menjalankan suatu kewenangan hanya untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Sebagai sebuah generasi yang akan mengisi suatu rentang masa dalam kehidupan, baik sebagai pejabat, pengusaha, pendidik, ada tanggung jawab besar sebagai anak bangsa Indonesia umumnya dan khususnya sebagai generasi bangsa aceh. Aceh berbeda dan selamanya akan berbeda, kita punya kekhususan yang dilindungi oleh hukum Negara, kita punya budaya yang melekat dengan nilai agama, apakah kekhususan ini akan kita gunakan untuk mewujudkan generasi yang berkeadilan atau tidak, kita yang akan menjawabnya. Suatu daerah yang dianggap menjadi Rule Model untuk daerah lainnya akan dilihat dari perilaku generasi sekarang, jika kita berhasil mencontohkan maka itulah sebuah pengakuan dan tanggung jawab kita kepada para syuhada yang telah memperjuangkannya.

Melawan segala bentuk praktik korupsi adalah tanggung jawab kita semua, generasi muda dan orang – orang yang lebih dulu telah memperjuangkan keadilan harus bersatu meluruskan orang-orang dengan kepintarannya menjadi baik. Seperti yang telah digariskan oleh endatu kita “ taduek beumeuglong ta dong beu kong lage teupula” kita bangun generasi yang anti korupsi, kita wujudkan impian besar sehingga kelak anak cucu kita tidak mendengar istilah koruptor dan akan bertanya apa itu Korupsi. Membentuk karakter, memperbaiki moral, merubah cara berpikir untuk melahirkan para pemimpin muda di Aceh sangat perlu dilakukan.

SYAHIR, SST

ALUMNI POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE

Email : syahir.sst@gmail.com

About the author

mustakim mustakim

mustakim mustakim

Add Comment

Click here to post a comment