Anti Korupsi

Pendidikan Karakter Berorientasi Syariat Islam Untuk Menciptakan Generasi Aceh Masa Depan Anti Korupsi

Pendidikan Karakter Berorientasi Syariat Islam Untuk Menciptakan Generasi Aceh Masa Depan Anti Korupsi

Oleh : Agung Syuhada Rusydi

 

Aceh, dalam beberapa rilis termasuk dalam provinsi terkorup diindonesia, KPK bahkan sejak beberapa tahun silam turun ke aceh guna memperbaiki tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Perbaikan sistem pemerintahan yang lebih terbuka (transparan) memang menjadi suatu upaya yang patut kita apresiasi, namun dibalik itu penting bagi pemerintah menumbuhkan karakter manusia-manusia aceh masa depan yang anti korupsi dengan pendidikan karakter yang bisa dimulai dari keluarga, sekolah dasar atau balai pengajian.

Penulis sangat yakin bahwasanya perilaku buruk dan tidak terpuji (korupsi) yang terjadi dimasa depan erat kaitannya dengan masa lalu, seseorang yang tidak memperoleh pendidikan moral yang baik diusia kanak-kanak akan menyebabkan penyimpangan perilaku dimasa depan. Disini timbul peran penting keluarga, bahwa untuk membentuk manusia-manusia aceh masa depan yang anti korupsi ini keluarga memiliki peran vital dalam menanamkan nilai-nilai dasar dan pembentukan karakter sang anak. Pendidikan karakter yang dimulai dimasa anak-anak ini menjadi faktor penting dalam mengelola asset aceh kedepan, pemerintah semestinya menyiapkan kurikulum khusus pendidikan karakter dalam sistem pendidikan aceh dalam UUPA, mengingat pemerintah pusat kurang serius dengan hal ini tidak salah jika aceh lebih maju selangkah dalam program pembangunan manusia jangka panjangnya. Jika memang tidak bisa, pemerintah aceh juga bisa memanfaatkan keberadaan badan dayah dalam upaya integrasi pendidikan aceh, didayah/balai pengajian juga bisa menjadi ‘ladang’ dalam pembentukan karakter sang anak yang berjiwa anti korupsi. Korupsi yang sudah ‘mendarah daging’ di tanah ini terutama di provinsi aceh bukanlah masalah kecil yang harus didiamkan, seluruh lapisan masyarakat sudah seharusnya ikut membantu mencegah hal tersebut terjadi. Bagi orang tua dirumah dengan suatu edukasi paling sederhana adalah dengan melarang anaknya mengambil barang yang bukan miliknya sendiri, menjadikan sosok anak menjadi pribadi yang lebih mandiri dan optimis dengan penerapan sistem nilai yang terstruktur tersebut merupakan awal dan dasar dari yang namanya pendidikan karakter.

Kenapa pendidikan karakter?

          Pendidikan  karakter merupakan suatu konsep pembentukan moral, pendidikan yang menunjukkan suatu kebenaran atau norma-norma yang ada dalam suatu unsur masyarakat. Semestinya pengetahuan terhadap unsur nilai-nilai tersebut ditanam sejak dini. Dalam psikologi, apa yang dilakukan seseorang diusia dewasanya adalah buah dari pengalaman dimasa lalu, inilah yang menjadi faktor utama pendidikan karakter ‘digalakkan’ oleh sejumlah negara diantaranya jepang untuk menciptaka generasi emas dimasa depan.

          Kita perlu menyadari bahwa tantangan dan arus globalisasi yang pesat merupakan suatu keniscayaan, ada dua kemungkinan yang akan terjadi dengan manusia. Pertama, dia akan mengikuti pengaruh globalisasi tersebut dengan tidak meninggalkan norma-norma atau yang kedua dia akan mengikuti globalisasi tetapi meninggalkan norma-norma, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang tidak tergerus dengan globalisasi. Jika manusia tersebut memiliki karkater dan moral yang teguh, mestinya dia akan seperti point yang pertama bukan yang kedua.

          Diindonesia korupsi merupakan kejahatan yang sangat masif, terstruktur dan biasanya dilakukan ‘berjamaah’, yang membingungkan banyak dari para pelaku korupsi tersebut tidak merasa bersalah dengan membawa slogan dia sedang dizalimi dan lain sebagainya. Lucunya negeri ini, disaat masih ada sekitar 10% penduduk miskin diindonesia, yang hidupnya sangat bergantung pada orang lain, tidak memiliki akses pendidikan dan kesehatan, para pejabat dengan segala pemberian negara masih terlibat dengan kejahatan yang merugikan banyak pihak.

          Kita harus sepakat. Pertama, korupsi adalah kejahatan luar biasa, pemerintah perlu merampingkan birokrasi yang terbelit-belit dan tidak transparan agar setiap individu masyarakat bisa melihat dan mem-protect pemerintahan. Kedua, pemerintah aceh khususnya harus dalam upaya menfokuskan pendidikan karakter pagi generasi aceh, hal tersebut bisa tercapai dengan melibatkan semua pihak yang peduli dengan proses mencetak generasi emas.

Masalah yang timbul tanpa pendidikan karakter

          Akan timbul masalah lintas dimensi, saat pendidikan karakter tidak menjadi prioritas. Generasi melenial aceh akan menjadi candu terhadap beberapa hal yang tidak sesuai dengan kaidah dan norma-norma dimasyarakat, seperti terlibat dalam peredaran dan konsumsi narkoba, mabuk-mabukkan, judi, bahkan korupsi. Untuk narkoba yang sudah sangat populer dikalangan muda-mudi aceh, menurut data BNN aceh merupakan salah satu provinsi dengan peredaran narkoba yang tinggi khususnya ganja dan sabu-sabu. Sayang sejuta sayang, tanah yang subur ini tempat tumpah darah para ualia tanoh para syuhada ini dikotori oleh generasi kemarin sore dengan sifat pragmatisme dan egoisme yang tinggi, narkoba sekarang dianggap jalan pintas menuju kekayaan tanpa peduli lagi segala konsekwensi yang ada yang mirisnya itu semua terjadi di negeri syariat kita, Aceh Darussalam!

          Oleh karenanya, bentuk penyimpangan yang terjadi tersebut menjadi tugas bersama kita, orang tua, para guru, tengku, kepala daerah untuk sama sama menjalankan tugas dan fungsi masing masing. Orang tua bertugas mendidik anak dirumah dengan maksimal selanjutnya guru dan tengku mendidik anak dikomunitas serta pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat guna. Dengan pola diatas, sangat kita yakini kedepan akan terus tumbuh generasi aceh yang sehat secara rohani dan jasmani, yang memikirkan kepentingan bersama, berkorban untuk tanah kelahirannya dan membuat aceh kian berdaya saing.

Wajib Ngaji Bagi muda mudi aceh

 

          Presiden republik indonesia melalui intruksi presiden NO.7 tahun 2014 telah mengintruksikan kepada para mentri, pimpinan lembaga negara dan para kepala daerah untuk mejalankan program keluarga produktif melalui Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS), Program Indonesia Sehat (PIS) serta Program Indonesia Pintar (PIP). Dalam point penting dari aspek diatas adalah meningkatkan wajib belajar anak indonesia dari 9 tahun menjadi 12 tahun.

          Wajib belajar yang dimaksud disini lebih spesifik mengatur ke sekolah (SD,SMP,SMA), namun pemerintah aceh semestinya dengan kekhususannya bisa menerapkan wajib ngaji bagi anak-anak aceh. Seperti beberapa sekolah, disaat masuk siswa baru diwajibkan melampirkan surat aktif pengajian, ini rasanya sangat penting diharapakan kedepan bahwa anak-anak aceh tidak hanya unggul dalam iptek namun juga imtaq. Dengan pendidikan agama dan aktif dibalai pengajian kita harapkan generasi yang ada dan tumbuh ini merupakan generasi terbaik, yang memagang teguh nilai dan moral. Semestinya wajib bagi kita dengan dukungan pemerintah dan lingkungan, jadikan keluarga kita semua menjadikan ‘sekolah’ pertama bagi anak. Dirumah bukan hanya sekadar tempat bermain, tempat belajar matematika dan sains tetapi juga tempat untuk menanamkan nilai-nilai, seorang anak harus memulai mengerti akan norma-norma dirumah bukan dari lingkungannya. Oleh karenanya,benang merah dari pembahasan kita yaitu para pelaku korupsi merupakan orang yang rendah pendidikan moral dikeluarga ataupun seseorang yang kurang dapat perhatian dari keluarga, indeks tindak pidana korupsi diaceh adalah bukti bahwa syariat hanya label, belajar agama hanya didayah belajar agama hanya dimulut bukan di hati, implementasi nilai-nilai tersebut harus menjadi pertanyaan kita semua.

          Dengan pendidikan karakter kita mengharapkan, jiwa-jiwa anti korupsi sudah dibentuk sejak anak anak. Hanya lelucon jika kampanye korupsi dilakukan di kantor-kantor, Kampanye anti korupsi harus dimulai dari rumah, Dari gang ke gang, dari desa ke desa. Semoga generasi kita kedepan adalah generasi anti korupsi.

Tentang Penulis 

Agung syuhada Rusydi mahasiswa program studi ilmu keperawatan (PSIK) STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe. Lahir di tingkeum Manyang Kutablang kab Bireuen 10 Mei 1998. Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Menempuh pendidikan di MIN 3 Bireuen, MTsN 6 Bireuen dan MAN 3 Bireuen. Sekarang menjadi mahasiswa keperawatan siap suatu saat mendedikasikan diri untuk kepentingan masyarakat.